“Revolusi” keilmuan mungkin terjadi

Kawan saya Ape di cafesalemba menuliskan bahwa dalam ilmu ekonomi “hampir semua ide besar sudah ditemukan” sehingga pekerjaan utama sekarang adalah mengisi detail-detail ilmu ekonomi, bukan ‘merevolusi’ ilmu ekonomi. Lengkapnya begini

Honestly, the room for another revolution is getting much and much smaller now. Most big ideas have been delivered. The frontiers have been pretty much explored. Of course, there are still many unexplored spots in the forest. That is the real call: to fill the missing puzzles through new theoretical and empirical researches.

Entah kenapa saya merasa ada yang aneh dengan pernyataan di atas. Tidak seperti jamannya ketika menjadi mahasiswa doktoral dimana saya langsung ngeyel protes di blog keren cafesalemba tersebut, saya coba endapkan dan pikirkan sebetulnya apa yang menurut saya tidak pas dengan pernyataan Ape.

Setelah dipikir-pikir, ternyata keberatan saya bemuara pada cara saya memandang ilmu ekonomi, psikologi, ilmu sosial dan segala ilmu yang berusaha mengerti perilaku manusia dan masyarakat. Berbagai cabang disiplin ilmu perilaku dan sosial itu bagi saya adalah berbagai pendekatan untuk mengerti manusia dan masyarakat. Karena latar belakang saya yang multi disiplin, saya tidak merasa menjadi pasukan salah satu disiplin ilmu tersebut. Kita bisa menggunakan pendekatan insentif dari ekonomi, kognitif dari psikologi, atau struktural dari sosiologi, tergantung dari masalah yang ingin kita pecahkan.

Karena saya melihat ilmu ekonomi sebagai salah satu bagian dari payung ilmu perilaku manusia sosial, maka saya melihat pernyataan bahwa semua ide besar telah ditemukan adalah berlebihan. Muingkin saja benar untuk ilmu ekonomi; tapi memiliki teori ekonomi yang baik bukan berarti juga memiliki teori yang baik untuk perilaku manusia dan masyarakat (berlaku untuk semua disiplin ilmu, teori sosiologi atau psikologi yang baik bukan berarti kita mengerti manusia). Artinya, boleh saja memang Ape menganggap ilmu ekonomi sudah matang sekali, tapi bukan berarti seluruh ide besar untuk mengerti manusia sudah ditemukan. Jadi perbedaaan utama saya dengan Ape adalah dia fokus pada ilmu ekonomi saja, sedangkan saya melihatnya sebagai masalah yang lebih umum yaitu ilmu perilaku manusia dan sosial. Tentu ini wajar jika melihat latar belakang masing-masing.

Selanjutnya saya akan coba uraikan sedikit mengapa kita masih kekurangan ide besar. Saya ambil satu contoh kira-kira bagaimana ada ruang untuk ‘revolusi’ ide besar.

Ekonom, psikolog, dan sosiolog sering bertengkar satu sama lain menyangkut pendekatan masing-masing ilmu. Ekonom menggunakan teori pilihan rasional dengan insentif menjadi panglima, psikolog menunjukkan bahwa cara manusia berpikir dipenuhi oleh bias-bias kognitif yang tidak bisa kita kontrol sehingga sulit kita berpikir dan bertingkah secara rasional, sedangkan sosiolog menekankan struktur sosial yang membatasi pilihan individu sehingga perilaku rasional tersebut sebenarnya banyak ditentukan oleh struktur sosial sebagai penyedia kesempatan atau keterbatasan.

Meskipun tampaknya berbeda-beda, tetapi sebenarnya ketiga pendekatan tersebut memiliki dasar yang sama: ekonom, psikolog, dan sosiolog melakukan rasionalisasi terhadap sebuah perilaku sehingga perilaku itu dimengerti sebagai kombinasi berbagai faktor seperti preferensi, motivasi, insentif, budaya atau kesempatan. Bukan hanya ilmuwan, semua manusia melakukan hal yang sama: mengerti perilaku manusia dalam kerangka rasionalitas (berbentuk rasionalisasi) dalam arti seluas-luasnya.

Sampai disini Ape mungkin berkata: “Tuh kan betul, ide besar sudah ditemukan, buktinya rasionalitas sebagai ide besar sudah diterima umum, kita nggak perlu ide besar lain lagi”.

Mungkin iya, mungkin juga tidak.

Proses utama dibalik ide kerangka rasionalitas ini adalah simulasi: jika kita ingin mengerti kenapa seseorang berperilaku tertentu, maka kita harus masuk ke sepatu dia dan melihat dunia dari kaca mata dia. Dari situ kita akan mengerti kenapa dia berperilaku tertentu dengan mengerti insentif, bias, atau posisi sosial apa yang dia alami dan rasakan. Hampir semua pendekatan ilmu perilaku & sosial – dari ekonomi hingga antropologi – menggunakan pendekatan subyektif ini. Tentu bukan berarti pendekatan simulasi ini salah, malah sebaliknya pendekatan ini telah menghasilkan banyak hal. Tetapi tetap ada pertanyaan seberapa akuratkah simulasi yang kita lakukan?

Menjawab pertanyaan seberapa akurat simulasi tersebut tentunya bukan disini tempatnya. Poin saya disini adalah para ilmuwan perilaku & sosial – terlepas beragamnya disiplin ilmu dengan pendekatan masing-masing – sebetulnya memakai satu kerangka berpikir; dan kerangka berpikir ini bisa jadi bukanlah satu-satunya.

Lihat disiplin ilmu lain seperti fisika misalnya. Ketika kita ingin mengerti perilaku elektron, yang fisikawan lakukan bukanlah membayangkan dirinya jadi elektron dan lalu memikirkan bagaimana elektron bergerak ketika menghadapi situasi tertentu. Artinya, untuk mengerti elektron, atom, DNA kita tidak menggunakan proses simulai seperti halnya ketika kita mencoba mengerti manusia. Apakah mungkin kita tak menggunakan proses simulasi ketika melakukan ilmu perilaku & sosial ? Ini salah satu pertanyaan besar yang belum terjawab.

Jadi bagi saya kita masih memerlukan banyak ide besar untuk bisa benar-benar mengerti perilaku manusia. Uraian saya disini menunjukkan hanya pada satu contoh dimana ide besar dalam ilmu manusia bisa muncul: menjelaskan perilaku tanpa rasionalisasi. Saya masih bisa berikan beberapa pertanyaan-pertanyaan besar yang jawabannya perlu ide-ide besar.

Sebagai penutup, mari kita ingat kembali bahwa sebagai ilmuwan, berpikiran terbuka adalah kewajiban. Meskipun itu sulit, seperti Max Planck pernah katakan: ‘Kebenaran ilmiah yang baru tidak menang dengan meyakinkan lawannya  dan membuat mereka melihat kebenaran, tetapi  karena pada akhirnya lawannya meninggal dunia’.

One thought on ““Revolusi” keilmuan mungkin terjadi

  1. “Most big ideas have been delivered. The frontiers have been pretty much explored. ”

    Well, before we figured out how to make telescopes we thought the sun was circling the earth and you’d fall off the edge and it was pretty much solid theory (back then).

Comments are closed.