Mengapa Sains Media Sosial?

Revolusi dalam sains biasanya dimulai oleh revolusi alat ukur. Alat ukur baru ditemukan sehingga memungkinkan manusia melihat apa yang sebelumnya tak terlihat; akibat informasi baru ini maka pengetahuan manusia mengalami kemajuan drastis.

Sebagai contoh kita lihat Fisika. Pada awalnya gerak benda-benda langit seperti planet, dan bintang dianggap wilayah Tuhan dimana manusia tidak bisa berkata apa-apa soal gerak benda-benda planet ini. Lalu muncul Galileo dengan teleskopnya yang mampu mengamati secara detail gerak benda-benda langit. Selanjutnya gerak benda-benda langit ini didokumentasikan secara detail dan sistematis oleh Tycho Brahe. Dengan memanfaatkan pengamatan Tycho Brahe, Johannes Kepler menemukan hukum empiris gerak benda-benda planet yang berbentuk elips. Selanjutnya, Isaac Newton mempelajari karya Kepler sehingga akhirnya dia bisa merumuskan hukum universal yang mengatur gerak benda: dari gerak benda di bumi hingga gerak benda di langit. Newton menandai era baru sains modern.

Hal serupa terjadi di Biologi. Awalnya penyakit dianggap sebagai karya roh jahat atau udara buruk. Orang sakit biasanya “diobati” dengan upacara magis atau disuruh pergi jauh untuk mendapatkan udara baik (saat itu belum ada konsep penyakit menular, sekarang kita tahu jika sakit justru sebaiknya tidak kemana-mana karena dapat menularkan penyakit). Keadaan ini mulai berubah ketika Antonie van Leeuwenhoek membuat mikroskop dan menemukan adanya organisme-organisme kecil yang tidak kasat mata. Selanjutnya diketahui bahwa penyakit banyak disebabkan oleh mikro organisme ini.

Dari dua contoh di atas terlihat bahwa sains fisika dan biologi modern muncul setelah sebelumnya ditemukan alat ukur baru: teleskop untuk fisika dan mikroskop untuk biologi. Alat ukur baru yang memungkinkan kita untuk mengamati hal yang sebelumnya tak teramati dapat merevolusi pengetahuan manusia.

Saya percaya, bahwa ilmu sosial dan perilaku manusia juga dapat mengalami revolusi dengan ditemukannya alat ukur baru. Untuk ilmu sosial dan perilaku, salah satu alat ukur baru itu adalah media sosial.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah umat manusia, kita memiliki kemampuan untuk merekam interaksi sosial dalam jumlah besar melalui media sosial seperti twitter atau facebook. Bagaimana informasi menyebar, komunitas terbentuk, atau orang membangun identitas dengan pencitraan misalnya, ini semua dapat dipelajari melalui media sosial. Ini analog dengan keadaan ketika manusia untuk pertama kali bisa mengukur gerak benda-benda langit; sekarang manusia dapat mengukur proses sosial (contoh: twitterology).

Selain penggunaan media sosial sebagai observatory, media sosial pun dapat digunakan sebagai laboratorium. Selama ini psikolog, misalnya, menjalankan eksperimen dengan menggunakan mahasiswa sebagai subyek. Selain eksperimen seperti ini hanya melibatkan jumlah subyek sedikit, juga secara demografik terbatas. Sedangkan, sosiolog hampir tidak menggunakan metode eksperimen karena kesulitan untuk mengkontrol kondisi eksperimen dalam skala besar. Internet, khususnya media sosial, sangat cocok untuk eksperimen sosial skala besar. Meskipun masih baru, beberapa studi telah menggunakan media sosial sebagai laboratorium dan memperlihatkan hasil-hasil yang menjanjikan.

Selain itu, sains media sosial juga bersifat multi disiplin. Sains media sosial berfokus pada problem, bukan disiplin ilmu. Problem riil biasanya membutuhkan pendekatan multi disiplin. Pendekatan satu disiplin hanya menjadi salah satu aspek dari problem keseluruhan. Disinilah sains ilmu manusia seperti psikologi, sosiologi, ekonomi, politik bekerja bersama dengan sains komputer, statistik, matematik, dan fisika.

Bahkan, multi disiplin keilmuan ini baru setengah cerita. Media sosial ini dibangun oleh industri, sehingga agar sains media sosial terbangun perlu kolaborasi antara dunia akademis dan industri yang erat. Ilmuwan harus mau berinteraksi dengan dunia bisnis karena dalam era media sosial ini dunia bisnis memiliki lebih banyak data. Sebaliknya dunia bisnis, dapat memanfaatkan ide dan metodologi yang tersedia di dunia riset akademis; apalagi media sosial ini menunjukkan pentingya pengukuran dan kuantifikasi akan menjadi trend dan standar dalam dunia bisnis, sehingga perusahaan perlu memiliki kemampuan analitik yang tinggi dan ide-ide terakhir untuk dapat kompetitif.

Jadi media sosial bukanlah hanya sekedar mainan baru bagi ilmuwan. Tetapi memberikan janji besar terutama bagi ilmu sosial dan perilaku manusia. Sejauh mana janji itu bisa dipenuhi tentunya tergantung dari para ilmuwan itu sendiri.