Komputasi + data = rekayasa sosial

Sebuah artikel di New York Times membahas sebuah tren yang sedang tumbuh yaitu 1) kekuatan komputasi dan 2) keberadaan sensor. Cloud computing membuat dunia akan terselimuti oleh program komputer yang semakin hari bertambah terus kapasitas proses dan penyimpanan datanya. Sensor semakin ada dimana-mana dari ponsel, kendaraan, hingga jutaan “sensor manusia” yang cerewet di media sosial seperti twitter.

Gabungkan kekuatan komputasi dan data-data dari sensor-sensor tersebut maka yang diperoleh adalah kemampuan menganalisis diri kita sendiri, baik sebagai individu atau sebagai masyarakat sosial; sebuah kemampuan yang pertama kalinya  ada sepanjang sejarah umat manusia. Selain analisis, juga akan berkembang algoritma untuk memprediksi dan mengintervensi dinamika sosial: sebuah era baru rekayasa sosial dalam arti sesungguhnya.

Di bagian akhir artikel tersebut tertulis

With the continuing exponential increase in the power of the planetary computer, one has to wonder whether we stand at the beginning of what Isaac Asimov’s “Foundation” series, more than 60 years ago, called “psychohistory.” His visionary genius Hari Seldon believed that statistical forecasting of human society’s actions would be possible with data from enough people throughout the galaxy.

 

Jangan-jangan ini adalah manifestasi dari sebuah pola sejarah: cerita fiksi sains menjadi kenyataan.

3 thoughts on “Komputasi + data = rekayasa sosial

  1. Wah berarti bisa dong nih dicobain utk skala Jakarta.. buat bikin gerakan perubahan atas pemerintah yg ngaco? 😀

Comments are closed.