Benarkah Dunia Digital Hanya Soal “Hiperkonsumerisme, Hiperteks, Hipermedia”?

Kompas hari ini melancarkan serangan terhadap Internet, terutama dampak negatifnya bagi para penggunanya. Silahkan anda baca sendiri artikelnya, saya tidak akan membahas poin per poin yang diajukan. Intinya dunia digital, menurut artikel tersebut, diklaim sebagai penyebab berbagai keburukan sosial.

Sebagai teknologi, tentunya dunia digital dan Internet memiliki efek negatif. Yang disayangkan, artikel tersebut mengesampingkan riset-riset empiris yang memperlihatkan dampak positif dari Internet dan dunia digital. Saya rangkum saja beberapa temuan riset psikologi mengenai dampak Internet bagi penggunanya.

  1. Absennya interaksi tatap muka justru membuat mungkin terbentuknya pertemanan berdasarkan basis yang dalam seperti minat, nilai dan kepercayaan, bukan hanya berdasarkan basis luar seperti tampilan fisik yang menjadi norma utama di dunia offline.
  2. Kebalikan dari yang digembor-gemborkan bahwa Internet membuat seseorang menjadi asosial, justru sebaliknya Internet memungkinkan komunikasi (misalnya melalui email, video chat) yang mempererat hubungan dekat seperti keluarga terutama bagi mereka yang berjauhan tinggalnya.
  3. Ketika hubungan yang berasal dari Internet ini menjadi tambah dekat, orang cenderung melakukan “kopdar”. Artinya hubungan sosial yang dekat di online cenderung juga dekat di offline. Ini membantah stereotipe bohong yang disebar media bahwa Internet menarik orang dari dunia “nyata” ke dunia “maya”.

Selain efek positif psikologis, Internet juga tentu memiliki nilai sosial positif. Terbukanya aliran informasi pengetahuan secara gratis; misalnya melalui Wikipedia atau kelas-kelas online. Juga Internet bisa digunakan sebagai alat pendorong transparansi; yang akhirnya bisa memberikan nilai ekonomi.

Tentunya Internet bukan hanya yang bagus-bagus saja. Salah satu masalah penting yang muncul dari Internet justru tidak dibahas oleh artikel Kompas tersebut, yaitu masalah privasi; dan kemungkinan adanya pihak yang kuat (seperti pemerintah atau konglomerat besar seperti …ehm..) menggunakan Internet untuk menarik data berharga yang memperkuat cengkeramannya terhadap rakyat.

Internet dan dunia digital berdampak positif dan negatif tentunya. Tetapi untuk tahu positifnya apa serta negatifnya apa, kita perlu melihat dan terus melakukan riset-riset ilmiah.

Terakhir saya ambil sebuah kutipan yang terjemahan bebasnya kira-kira seperti ini

Manusia tidak akan dipengaruhi oleh teknologi secara pasif, tetapi secara aktif membentuk penggunaan dan pengaruh teknologi.

 

PS: Rusuh antrian BB (yang mungkin menjadi pemicu artikel Kompas tersebut) memang menyedihkan, tetapi menurut saya sih untuk koran terkemuka daripada menyerang secara murahan ke konsumerisme mending bahas sains antrian seperti ini http://on.wsj.com/sgCWTU agar rusuh antrian tidak terjadi lagi. Tapi mungkin memang tugas media membesar-besarkan masalah, bukan menunjukkan kemungkinan-kemungkinan penyelesaian masalah.

Referensi:

Argumen dan kutipan di atas saya ambil dari artikel berikut:

Bargh, J., McKenna, K. The Internet and Social Life, Annual Reviews of Psychology, 55:573-90, 2004. [PDF]

 

One thought on “Benarkah Dunia Digital Hanya Soal “Hiperkonsumerisme, Hiperteks, Hipermedia”?

Comments are closed.