Mengapa retorika kompetisi tidak cocok untuk inovasi

Sebuah artikel bagus menjelaskan mengapa argumen kompetitif tidak cocok diterapkan dalam dunia inovatif seperti riset sains. Kita sering mendengar kita memerlukan inovasi atau riset sains untuk “mengejar ketertinggalan” atau demi “kejayaan bangsa”. Asumsinya disini adalah inovasi dari riset lahir melalui perlombaan kompetisi seperti dalam olah raga.

Artikel tersebut memang dalam konteks riset di Amerika, tapi saya pikir argumennya secara umum tetap menarik: argumen atau metafor kompetisi ini tidak cocok dalam hal inovasi riset:

The extremely complicated interactions between countries—goods, people, culture, and ideas all flowing back and forth—are not akin to a sporting competition. To pretend that we are all engaged in a giant worldwide track meet for economic domination serves the interest of business above individuals.

Secara umum retorika riset untuk sebuah kejayaan seringkali kontradiktif:

Competition rhetoric can be used to incite hysteria—“We are falling behind!—and to inspire pride—“We’re number one!” Weirdly, the competitiveness crowd often argues both of these at the same time: We are the greatest country on earth even as our schools are failing.

Ini sering terjadi di Indonesia: membanggakan prestasi seorang individu atau kelompok dari masa lalu atau masa kini sebagai “bukti” kejayaan Indonesia sekaligus ketertinggalan kita.

Saya termasuk yang setuju bagi kita untuk meninggalkan retorika kompetisi dan menggantinya dengan retorika berbagi. Karena poin utama dari inovasi riset yang berhasil bukanlah keuntungan pribadi, kelompok atau bahkan kejayaan bangsa saja, tetapi kegunaan inovasi tersebut menyebar dan akhirnya digunakan oleh siapa saja. Fakta Internet ditemukan di Amerika kalah maknanya oleh fakta Internet dipakai dan berguna bagi miliaran orang di dunia.

7 thoughts on “Mengapa retorika kompetisi tidak cocok untuk inovasi

  1. +1 Mas Roby dengan pendapatnya :).

    Tapi kalau boleh menambahkan, saya pikir ini berlaku untuk riset yang sifatnya “blue sky” atau lebih mendekati riset dasar. Manfaat yang diambil dari riset-riset demikian memang seperti yang Mas Roby kemukakan. Dan memang, sayangnya wacana publik belum mengarah ke sini. Alasan riset yang digembar-gemborkan selalu untuk memajukan ekonomi. Padahal, saya pikir itu efek samping yang menguntungkan, bukan tujuan utama riset dasar.

    Di lain pihak, ada juga riset-riset yang sifatnya terapan. Target utamanya lebih nyata / dekat dengan bisnis, misalnya seperti paten produk. Saya pikir ini juga perlu dikembangkan, sejalan dengan riset dasar. Dan di sini, pola pikir riset sebagai alat berkompetisi masih sahih. Kalau saya boleh sedikit meng-generalisasi, riset ini lebih cocok dilakukan perusahaan-perusahaan. Coba saja simak perusahaan Tech yang sedang besar sekarang dan lihat berapa besar budget riset mereka :).

    Keduanya perlu dikembangkan. Walaupun judulnya sama-sama riset, pola pikirnya berbeda :).

    • Terima kasih komentarnya Mas Mahmud 😉

      Argumen di artikel itu berlaku untuk riset dasar dan terapan. Contoh nya Internet, lampu pijar, mobil, telepon, obat yang semuanya riset terapan. Amerika penemu mobil, tapi negara produsen mobil terbesar sekarang adalah Jepang. Artinya keuntungan kompetitif hasil riset (baik terapan dan dasar) tidak akan abadi, pada akhirnya hasil riset tersebut akan menyebar (misalnya paten obat yang kadaluwarsa yang lalu menjadi obat generik).

      Tapi memang betul dalam rentang waktu terbatas itu kita dapat mengeruk keuntungan kompetitif. Jadi buat saya bukan soal riset terapan atau dasar, tapi lebih ke rentang waktu efeknya. Dan bisa jadi – terutama di industri internet – rentang waktu ini akan semakin kecil. Karenanya semakin singkat kita bisa menikmati keuntungan kompetitif dari sebuah inovasi riset. Spekulasinya tren rentang waktu sempit ini menjadi semakin umum sehingga kita tidak bisa menggantungkan nilai kompetitif pada inovasi riset; tetapi lebih pada – misalnya -model bisnis, pemasaran, efisiensi, akses pasar dsb.

    • Wah cukup komprehensif informasinya Mas Affan, terima kasih.
      Wassalam

  2. Many thanks Mas untuk artikel yg menarik. Saya kira pandangan ini ada benar dan salahnya yg masing2 berbeda kadarnya untuk tiap konteks tertentu.

    Inovasi Teknologi adalah kunci military prowess. Military prowess adalah kunci hard power dalam politik internasional. Saya kira, dalam konteks ini, retorika perlombaan atau bahkan survival adalah elan vital yang penting. Sebagai contoh, teknologi AS, terutama persenjataan, robotik, dll semuanya didorong oleh retorika survival ini.

    Flow of goods, people, ideas, etc juga tidak berada dalam ruang hampa. Ada struktur yang membatasi kan? Misal: walaupun secara psikologis para ilmuwan lebih positif tanpa retorika kompetisi, apakah anggaran akan cair tanpa retorika perlombaan?

    Selama dunia kita belum Kantian paripurna, retorika kompetisi masih penting.

    wallahu a’lam.

    • Terima kasih Mas Shofwan yang telah menunjukkan poin penting dan saya juga setuju bahwa selama inovasi didorong oleh motif militer maka retorika perlombaan akan selalu dominan.

      Jadi memang struktur yang ada sekarang membatasi retorika lain. Tapi justru poin dari argumen ini adalah ada jalan untuk meninggalkan struktur yang ada sekarang, untuk struktur baru -yaitu inovasi berbasis kolaborasi. Kalo kita majukan retorika kolaborasi ini terus menerus, mungkin akhirnya kita bisa kurangi hubungan riset inovasi dari dunia militer. Ya semacam usaha untuk mengimajinasikan dunia (struktur) lain daripada yang ada sekarang.

  3. Pingback: Ilmuwan = pengusaha kecil? | Roby Muhamad

Comments are closed.