Sukses: antara usaha individu dan jejaring sosial

Salah satu bekas dosen saya di Columbia, Shamus Khan, baru saja mengeluarkan bukunya mengenai bagaimana kelompok elit dibentuk melalui sekolah elit. Sebuah posting  dan diskusi didalamnya membahas sedikit buku ini. Saya ambil poin menarik dari diskusi tersebut mengenai hubungan antara elit (atau kesuksesan) dengan individu dan jejaring sosial.

Elit Amerika mengalami transformasi. Asalnya kelompok elit masyarakat berperilaku seperti bangsawan dimana mereka merasa berhak untuk memperoleh perlakuan spesial dari orang karena statusnya (entitlement). Elit di Indonesia sepertinya termasuk dalam kategori ini: merasa berbeda dari kebanyakan orang karena simbol jabatan, uang, atau turunan sehingga merasa pula berhak mendapat perlakuan dan perhatian khusus.

Di Amerika jenis elit ala bangsawan ini mulai ditinggalkan, dan diganti model elit baru. Sebenarnya model elit baru ini sama dengan model elit kuno ala bangsawan tapi ditambah dengan kepercayaan (yang bisa benar atau tidak) bahwa sukses dan status elit mereka berasal dari usaha pribadi. Elit baru ini merasa berhak menjadi elit karena sudah bekerja keras. Para elit baru ini merasa secara prinsip sama dengan orang kebanyakan, tetapi dia bekerja lebih keras; elit yang merasa egaliter.

Contoh elit baru adalah Mark Zuckerberg. MZ dianggap berhasil meraih sukses karena usahanya sendiri, kepintarannya, atau  keberaniannya mengejar passion. Singkatnya suksesnya dianggap berasal dari usaha individu.

Padahal ada faktor non-individu, (yaitu faktor struktur sosial) yang membuat bakat mentah MZ dapat dijadikan sebuah karir yang luar biasa. Kehebatan programmer MZ semakin terasah ketika Ayahnya menyewa khusus tutor pemrograman komputer untuk MZ ketika dia masih SMP. MZ masuk ke SMU dan universitas elit dimana dia memperoleh dosen dan teman-teman berkualitas dan juga memiliki sumber daya untuk menyalurkan hobi programming nya. MZ memiliki teman kaya yang dengan mudah memberinya $18 ribu ketika facebook membutuhkan server tambahan.

Singkatnya kesuksesan MZ tidak semata-mata muncul dari bakat, passion atau usaha pribadinya saja. Tapi banyak ditentukan oleh jejaring sosialnya yang menyediakan berbagai macam sumber daya untuk membuat mimpi MZ menjadi kenyataan. Tentunya jejaring sosial MZ ini tidak dimiliki oleh orang kebanyakan.

Jadi meskipun para elit baru Amerika ini merasa bahwa sukses datang pada mereka karena usahanya sendiri sehingga merasa egaliter, tetapi sebetulnya mereka tetap memiliki akses ke jejaring sosial eksklusif. Jadinya kepercayaan atau retorika egaliter ini tidak sesuai dengan kenyataan. Transformasi elit ini sepertinya masih terbatas di retorika.

Pelajarannya, bagi kelompok elit, dunia (atau tepatnya jejaring sosial) bukanlah rantai yang mengungkung membatasi gerak kita dalam mewujudkan mimpi. Bagi elit, jejaring sosial justru kesempatan yang terbuka untuk dieksploitasi. Apalagi di Indonesia, saya curiga faktor jejaring sosial ini lebih dominan dalam menentukan kesuksesan individu.

11 thoughts on “Sukses: antara usaha individu dan jejaring sosial

  1. di indonesia, anggota dpr yg disebut wakil rakyat merasa beda dengan rakyat yang diwakilinya. naik mobil 7 Milyar, kunjungan ke bali dgn jet pribadi..

  2. Tulisan yang sangat menarik! Pak Roby Muhammad, apakah untuk mencapai kelompok sosial tertentu dapatkah itu direkayasa? Supaya mendapat kesepatan sesuai dengan kelompok sosial yang dituju tersebut?

    • Kemungkinannya ada. Tapi memang kita masih harus pikirkan bagaimana cara terbaik untuk memanipulasi jejaring sosial yang menghasilkan akses lebih merata.

  3. Numpang tanya, Mas.
    1. Struktur jejaring yang bagaimanakah yang lebih “berkeadilan”?
    2. Hubungan apakah yang paling penting dalam jejaring seperti itu? (informasi, ekonomi, modal sosial, dll.?

    • Pertanyaan bagus ksaputro, tetapi sayang saya sendiri belum tahu jawaban singkatnya 😉

  4. Jadi, dunia rata, the world is flat, seperti yang dikatakan Friedman itu tak sepenuhnya benar ya. Yang rata sebatas informasinya saja.

    Karena jika MZ di Indonesia, apakah akan ada dana sebesar tersebut dikucurkan.

  5. Pak Roby, saya kira fenomena jejaring sosial ini bisa juga untuk menjelaskan kenapa banyak orang memilih sekolah favorit utk menunt ilmu atau perusahaan besar untuk bekerja. Kan ada tuh perkataan bahwa kesuksesan itu juga bergantung pada siapa yang kamu kenal.

  6. Attribut yang dimiliki (kecerdasan, usaha keras, asal keluarga dll) menentukan jejaring sosial dan kesuksesan, atau jejaring yg menentukan ? saya pikir logically, semuanya dimulai dari will dari Individu,,, Bagaimana kalau kita buat empirical studiesnya kalau belum ada mas ?

    • Tentu semuanya berasal dari individu karena individulah yang melakukan action. Tapi yang menentukan sukses bukan usaha kita, melainkan orang lain yang suka dengan usaha kita, sehingga kita mendapat predikat “sukses”. Jadi kesuksesan adalah sebuah proses sosial; dalam proses sosial jejaring sosial berperan besar.

      Silahkan dibikin studinya, pasti seru 🙂

Comments are closed.