Kepercayaan dan rasionalitas.

Bisakah orang memiliki kepercayaan tanpa rasionalitas? atau sebaliknya, rasionalitas tanpa kepercayaan?

Salah satu debat utama dalam ilmu sosial adalah apakah kepercayaan mendahului rasionalitas atau sebaliknya. Sebuah riset oleh ekonom menunjukkan bahwa kepercayaan (apakah seseorang percaya bahwa dia punya harapan atau tidak) memiliki efek cukup besar dalam menentukan apakah dia dapat keluar dari kemiskinan atau tidak.

Biasanya orang tetap berada dalam kemiskinan karena tidak percaya akan adanya harapan untuk keluar dari kemiskinan.

Development economists have long surmised that some very poor people may remain trapped in poverty because even the largest investments they are able to make, whether eating a few more calories or working a bit harder on their minuscule businesses, are too small to make a big difference. So getting out of poverty seems to require a quantum leap—vastly more food, a modern machine, or an employee to mind the shop. As a result, they often forgo even the small incremental investments of which they are capable: a bit more fertiliser, some more schooling or a small amount of saving.

Ternyata membuat orang percaya bahwa dirinya punya harapan untuk keluar dari kemiskinan memang dapat membebaskannya dari kemiskinan dengan berperilaku rasional. Selanjutnya jika memang rasionalitas didirikan di atas kepercayaan, pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana kepercayaan dikonstruksi sehingga diterima oleh banyak orang.

Singkatnya apa mekanisme yang membuat orang percaya apa yang dia percaya? Pertanyaan ini adalah salah satu pertanyaan yang dicoba dijawab oleh riset-riset di grup riset kami. Untuk menjawabnya kita merasa perlu mengerti narasi dan bahasa karena melalui keduanyalah kepercayaan ditransmisikan.

 

Artikel lengkapnya:

Free exchange: Hope springs a trap | The Economist.