Pidato Kebudayaan: Nostalgia Masa Depan Manusia

Saya sungguh beruntung diberi sebuah kehormatan untuk menjadi penyaji Pidato Kebudayaan 2017 oleh Dewan Kesenian Jakarta. Pidato kebudayaan ini adalah program tahunan DKJ yang berlangsung sejak 1989. Sudah banyak tokoh-tokoh nasional yang menjadi penyaji pidato, dari Umar Kayam, hingga Fuad Hassan, dan Habibie. Tokoh-tokoh yang pemikirannya mewarnai kehidupan intelektual di Indonesia. Sebagaimana hal nya dengan warna, pemikiran adalah soal selera. Ide yang diterima luas tidak serta merta merupakan ide yang berkualitas. Juga sebaliknya, ide yang tidak diterima bukan berarti tidak berkualitas. Selera memiliki siklusnya sendiri, selera datang dan pergi secara acak. Kita manusia selalu tergopoh-gopoh mencari dan memberikan makna pada selera-selera yang sempat mampir itu. Pada hari Jumat saya diberikan kesempatan untuk menawarkan sebuah selera yang mudah-mudahan cukup menyegarkan dan menghentak. Membuat kita terpaksa diam sejenak, mereflektifkan diri tentang dari mana, sedang ada di mana, dan mau kemana kita.

Saya akan ambil manusia sebagai pusat perhatian. Lalu saya akan gunakan berbagai kaca-mata untuk melihat manusia melalui spektrumnya masing-masing. Setiap kaca-mata akan memberikan spektrum berbeda sekaligus realitas yang berbeda pula. Penglihatan dari berbagai sudut pandang ini bukanlah sebagai usaha untuk obyektif. Obyektif adalah hal yang sia-sia. Melainkan, keragaman sudut pandang saya harapkan memberikan kesan kaya akan makna. Membuat kita merasa memiliki pilihan makna. Sampai kita sadar bahwa makna datang dari kita sendiri dan terbentuk atas bantuan waktu. Makna adalah cara masa depan merubah masa lalu. Kreatifitas manusia adalah mesin makna yang terus bekerja selamanya. Sampai jumpa Jumat malam: http://bit.ly/suarajernihdaricikini.