“Swing Voters” dan Jejaring Sosial

Hasil survey terakhir Lembaga Survei Indonesia (LSI) menunjukkan bahwa Presiden Yudhoyono adalah kandidat presiden paling populer dengan popularitas melebihi 50%. Meskipun demikian, bukan berarti Presiden Yudhoyono dapat berleha-leha dan calon presiden lain tidak berpeluang lagi. Ini karena perilaku pemilih di negara-negara yang baru berdemokrasi sangat mudah berubah. Salah satu karakteristik pemilihan presiden di negara demokrasi baru adalah fluktuasi besar dalam perilaku calon pemilih. Sebagai contoh, tahun 1990 di Peru, Fujimori memenangkan pemilu meskipun pada awal kampanye tingkat popularitasnya hanya 2%; tahun 1996 di Rusia, Boris Yeltsin memenangkan pemilu padahal popularitas awalnya hanya 8%; tahun 2004 di Indonesia, Presiden Yudhoyono memenangkan pemilu dengan popularitas awal 5%.

Volatilitas pemilih yang demikian tinggi tersebut hampir tidak pernah terjadi di negara-negara yang demokrasinya sudah stabil. Karena preferensi politik pemilih di negara demokrasi baru tidak stabil, maka periode kampanye yang singkat dapat mengangkat kandidat yang sebelumnya kurang populer menjadi pemenang atau sebaliknya. Maka wajar jika kita berusaha mengerti dinamika perubahan preferensi politik dalam konteks negara yang baru berdemokrasi.

***

Ada dua teori utama tentang perilaku pemilih. Teori pertama biasa disebut sebagai teori pemilih rasional. Dalam teori pemilih rasional, pemilih diasumsikan memiliki preferensi politik yang tidak berubah. Maka tidak tepat menggunakan teori pemilih rasional untuk menjelaskan perilaku pemilih yang preferensi politiknya justru berubah-ubah seperti swing voters. Ini bukan berarti swing voters tidak memilih dengan rasional; tetapi, bagi swing voters, preferensi yang menjadi dasar pilihan rasional itu sendiri berubah dan perubahan preferensi ini tidak bisa dijelaskan oleh teori pemilih rasional.

Teori kedua biasa disebut sebagai teori pemilih psikologis. Menurut teori pemilih psikologis, pemilih terikat kepada partai atau kandidat presiden karena ikatan partisan atau simbolik. Ikatan partisan dan simbolik ini biasanya mengakar dalam sehingga membuat preferensi politik menjadi stabil. Karenanya teori ini juga tidak tepat dipakai untuk menjelaskan ketidakstabilan preferensi politik pemilih.

Kedua teori diatas juga mensyaratkan partai politik yang kuat. Karena hanya dengan adanya partai politik yang kuat maka pemilih rasional dapat menimbang semua pilihan yang ada dengan rasional, dan pemilih psikologis dapat membuat ikatan batin dengan partai tersebut. Di negara-negara yang masih dalam proses konsolidasi demokrasi, seperti Indonesia, sinyal dari partai politik yang menginformasikan posisi ideologi dan kebijakan partai lemah atau sama sekali tidak ada. Sehingga, perilaku pemilih di negara-negara demokrasi baru perlu dijelaskan oleh teori lain. Ini tidaklah mengherankan karena kedua teori di atas adalah hasil studi di negara-negara yang mapan demokrasinya.

***

Karena di negara demokrasi baru partai politik belum berfungsi sebagaimana mestinya, maka media massa memainkan peran besar dalam menyalurkan informasi politik. Tetapi bukan berarti media adalah saluran informasi politik satu-satunya. Informasi politik juga mengalir dan diolah dalam percakapan sehari-hari dan diskusi-diskusi politik yang terjadi misalnya di kantor, terminal bis, atau di warung kopi. Dengan kata lain, meskipun informasi politik bisa berawal dari media, penyebaran, penyaringan, dan pencernaan informasi politik terjadi di jejaring sosial.

Riset komunikasi sejak tahun 1950an telah menunjukkan bahwa individu tidak menelan informasi dari media secara mentah-mentah, melainkan informasi ini diolah dan disaring melalui interaksi sosial (dikenal sebagai two-step flow model). Jika informasi politik ini mengalir di jejaring sosial, maka besar kemungkinan perubahan preferensi politik ini terjadi akibat pengaruh teman, keluarga atau orang di sekitar kita. Perubahan preferensi ini dapat menjalar di jejaring sosial sehingga menghasilkan efek domino (cascade).

Yang menarik dari efek domino di jejaring sosial ini adalah jenis orang yang paling berperan dalam menimbulkan efek domino. Hasil penelitian sosiolog di Columbia University baru-baru ini mengindikasikan bahwa mereka yang berperan penting dalam menghasilkan efek domino bukanlah segelintir orang yang memiliki pengaruh besar, tapi orang yang mudah dipengaruhi dalam jumlah cukup besar. Artinya, jenis individu yang penting untuk menimbulkan efek domino adalah kebalikan dari jenis individu yang menjadi target iklan politik di media massa. Iklan politik di media massa memiliki target individu yang relatif mengerti politik dan iklan tersebut membantu mereka membentuk opini atau preferensi politik sendiri. Sedangkan mereka yang menjadi katalis efek domino biasanya adalah individu yang merasa kurang mengerti soal politik sehingga mereka bergantung pada pendapat orang lain.

Tetapi jangan mengartikan para katalis efek domino ini sebagai orang yang mudah dimanipulasi, melainkan diartikan sebagai bentuk partisipasi politik aktif dimana politik menjadi bahan obrolan; jadi tidaklah mudah memulai sebuah efek domino yang memiliki konsekuensi politik yang signifikan. Karena seperti obrolan kita sehari-hari yang arahnya sulit ditebak, hampir tidak mungkin kita mengatur secara pasti obrolan atau diskusi informal apalagi obrolan yang merembet secara terus menerus dan menjangkau banyak orang dan menjadi efek domino. Dengan semakin meningkatnya kompetisi diantara kandidat presiden dan iklan politik di media yang mulai mengalami saturasi, bisa jadi pertarungan berikutnya terjadi di jejaring sosial dimana para kandidat berlomba menciptakan efek domino.

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks

Leave a Reply

Spam Protection by WP-SpamFree


Switch to our mobile site