Situs Jejaring Sosial atau Situs Nongkrong?
Jika anda tanyakan bagaimana menyelesaikan sebuah masalah sosial ke ekonom, maka kemungkinan besar dia akan menganjurkan mekanisme pasar: sebarkan informasi secara merata, biarkan setiap orang bertindak bebas dan lalu tonton bagaimana kompetisi bebas akan menghasilkan solusi yang optimal dan efisien.
Untuk banyak hal, solusi dengan mekanisme pasar ini berjalan baik. Contohnya adalah internet. Internet memungkinkan pemerataan informasi sehingga memudahkan orang untuk menimbang untung rugi sebelum mengambil keputusan. Misalnya adalah situs pelelangan eBay yang bisa dijadikan contoh klasik dimana pembebasan informasi melalui internet bisa membuat transaksi ekonomi menjadi lebih efisien. Seseorang yang sudah bosan dengan jemuran handuknya, misalnya, tidak perlu membuangnya tapi bisa dijual ke orang lain yang menawarkan harga tertinggi melalui situs eBay. Solusi yang dicapai membuat kedua pihak senang: jemuran handuk berpindah tangan dari orang yang tidak menginginkannya ke orang yang menginginkannya dengan harga sesuai.
Disini, ide dasarnya adalah Internet membuka kesempatan untuk menemukan barang yang kita inginkan dengan harga yang disepakati kedua pihak.
Selanjutnya, ide ini dicoba diterapkan ke jejaring pertemanan (social network); sehingga menjamurlah situs-situs seperti facebook, myspace dsb.
Kita hidup di dunia yang sangat rumit sehingga wajar jika menghadapi masalah kita berpaling ke teman-teman, keluarga dan orang lain disekitar kita. Ketika akan membeli handphone, misalnya, kita meminta pendapat teman; atau bisa juga secara sembunyi-sembunyi memperhatikan handphone apa yang banyak dipakai teman sekitar. Pacar, istri, atau suami sering kita peroleh karena dikenalkan oleh teman. Ketika mencari pekerjaan atau pegawai, kita sering memanfaatkan teman, sanak-saudara, atau kenalan lain. Artinya, banyak masalah yang solusinya ditemukan setelah kita menemukan orang yang tepat di jejaring sosial kita.
Meskipun kita sadar jejaring sosial yang kita miliki penting, sulit bagi kita untuk mengetahui dengan pasti siapa-siapa saja yang ada di jejaring kita ini. Malah kenyataannya, sering kita tidak tahu secara komplit siapa saja teman kita, apalagi temannya teman, atau bahkan temannya temannya teman kita. Karena itu keberadaan situs social networking memberikan kita cara untuk memetakan jejaring sosial kita ini. Perkiraannya, situs social networking ini menjadi jembatan dimana anggotanya dapat melihat orang-orang dua langkah dari dirinya (temannya teman) dan meminta temannya untuk memperkenalkan ke orang yang dituju. Tentunya kita bisa saja minta kenalan secara langsung tanpa perantara, tapi justru kelebihan social networking adalah adanya perantara yang dapat memperlicin proses perkenalan.
Jadi situs social nerworking ini diharapkan berfungsi mirip eBay dimana tirai penghalang informasi diangkat sehingga kita bisa memilih perantara yang dapat menghubungkan kita dengan seseorang yang kita perlukan secara efisien.
Sayangnya kenyataannya tidak berjalan mulus. Seorang teman saya, seorang laki-laki, kaget bahwa perempuan idamannya ternyata teman dari seorang temannya; teman saya mengetahui hal ini dari sebuah situs social networking. Lalu teman saya ini meminta temannya untuk menjadi perantara dan mengenalkan ke perempuan pujaannya tersebut. Diluar dugaan teman saya, ternyata si perantara secara halus menolak memperkenalkannya. Tidak jelas alasannya apa.
Contoh kedua dialami saya sendiri. Saya menemukan presenter TV favorit saya di facebook lalu saya kirimkan permintaan untuk menjadi teman tetapi ditolak. Setelah itu saya lihat ternyata presenter ini temannya teman baik saya. Lalu saya minta ke teman saya tersebut untuk dikenalkan. Lagi-lagi, teman saya menolak permintaan saya ini. Dia bilang dia sendiri tidak terlalu dekat dengan si presenter tersebut dan dia merasa canggung untuk mengenalkan saya karena menurut dia “kegenitan” (presenternya memang perempuan). Saya protes dibilang genit dan jelaskan bahwa salah satu risiko menjadi tokoh publik – termasuk presenter TV – adalah memiliki penggemar; meskipun batas penggemar dan kegenitan kadang tipis, tetapi – paling tidak menurut saya- mengkespresikan diri sebagai penggemar adalah hal wajar.
Dari dua contoh diatas tampak bahwa jejaring pertemanan tidak berjalan seperti pasar biasa karena ongkos transaksi tidak hanya ditanggung oleh pembeli atau penjual, tapi juga oleh perantara. Sehingga situs social networking tidak sesukses eBay dalam arti mempertemukan dua orang yang saling memerlukan (dalam arti seluas-luasnya) karena adanya teman sebagai perantara yang tidak bisa dilewati begitu saja. Membayar teman untuk membujuk dia menjadi perantara malah dapat membuat dia tersinggung. Banyak alasan seseorang menolak menjadi perantara. Dalam contoh pertama, mungkin saja si perantara itu justru naksir sang perempuan, atau si perantara tahu bahwa temannya itu seorang “player” sehingga menolak mengenalkan teman perempuannya karena takut dipermainkan. Atau contoh lain, seseorang menolak merekomendasikan temannya menjadi pegawai karena dia tahu temannya itu pemalas.
Singkatnya, dalam jejaring pertemanan, kegunaan suatu ikatan pertemanan sangat bergantung dan sensitif terhadap konteks. Ongkos transaksi tidak hanya harus dibayar oleh pembeli dan penjual tapi juga oleh perantara. Keterlibatan perantara inilah yang membuat dinamika jejaring sosial menjadi rumit.
Jika situs jejaring sosial tidak bekerja sebagaimana social networking diharapkan memberikan manfaat dimana orang bisa menggunakan temannya sebagai perantara, maka apa artinya?
Sepertinya, situs social networking ini lebih mirip seperti nongkrong-nongkrong di mall atau tempat publik lainnya. Orang ingin melihat dan dilihat orang lain. Jadi situs social networking lebih cocok dikategorikan sebagai hiburan; belum memiliki utilitas yang berarti secara ekonomis bagi penggunanya. Mungkin karenanya model bisnis situs jejaring sosial ini masih mengandalkan pendapatan dari iklan; karena manfaatnya belum cukup besar sehingga orang mau bayar untuk menjadi anggota.
Karena itu belum ada model bisnis yang cocok untuk situs jejaring sosial. LinkedIn mungkin cukup berhasil membuat situsnya bermanfaat untuk penggunanya. facebook masih kelimpungan mencari model bisnis; sepertinya facebook kesulitan mengurusi masalah privasi.
Saya pikir, inovasi yang ditunggu-tunggu adalah bagaimana menyusun struktur insentif yang dapat menjalar di jejaring sosial. Sehingga orang dapat memberikan insentif yang tepat yang menyebabkan informasi dan sumber daya (resources) dapat mengalir lebih efisien di jejaring sosial. Jika ini ditemukan maka situs-situs seperti facebook berubah atau digantikan dari situs nongkrong ke situs jejaring sosial sejati dimana orang – dibantu teknologi – dapat membuat modal sosial bekerja sesuai yang diinginkannya. Usaha ke arah ini sudah dimulai, tapi masih berkutat di lingkungan akademis dan belum ditemukan cara implementasi praktis yang efektif dan efisien. Jika berhasil, mungkin saja kisah sukses Google terulang: dimana sains, teknologi, dan eksekusi lapangan bersinergi menghasilkan inovasi yang meningkatkan kualitas hidup banyak orang dan bisnis yang kuat.