Google Buzz: Sosiologi Media Sosial
Sekarang ini semakin sering kita menghabiskan waktu di media sosial seperti facebook dan twitter, dan salah satu konsekuensinya adalah semakin berkurangnya privasi kita. “Privacy is dead” sudah sering terdengar. Saya sendiri cenderung setuju karena informasi privat di media sosial diberikan secara sukarela oleh penggunanya; jadi sepertinya memang telah terbentuk norma sosial baru dimana orang biasa “berteriak” ketika berbicara satu sama lain. Contohnya adalah ucapan selamat ulang tahun. Biasanya kita mengucapkan selamat ulang tahun sambil bersalaman langsung dengan orang yang berulang tahun. Tetapi kita sekarang menuliskan ucapan selamat di wall facebook atau di twitter, yang sebetulnya serupa dengan datang ke mesjid terdekat di mana teman kita tinggal dan mengucapkan selamat ulang tahun menggunakan pengeras suara mesjid dengan volume maksimum: semua orang di sekitar akan mendengar pesan itu.
Tetapi kemunculan Google Buzz yang menimbulkan kontroversi cukup ramai membuat saya berpikir bahwa konsep privasi yang diperdebatkan selama ini lebih disebabkan karena para penyedia jasa media sosial (misalnya Google dan facebook) tidak mengerti satu konsep dasar sosiologi yaitu identitas.
Setiap orang memiliki identitas beragam yang tidak tunggal. Teman-teman saya dari TK, SD, SMP, SMA, ITB, Columbia mengenal saya sebagai identitas yang berbeda-beda. Konsep multi identitas ini tidak sama dengan multi kepribadian yang dianggap sebagai kelainan psikologis atau kejiawaan. Konsep multi identitas dalam sosiologi muncul bukan dari kepribadian tapi muncul dari interaksi sosial.
Sebagai ilustrasi, saya ceritakan bagaimana identitas saya diantara teman-teman SMA dan ITB berbeda. Ketika masuk SMA, teman-teman dekat saya adalah pemain musik (beberapa diantara mereka terus menjadi musisi profesional sekarang). Maka ketika kumpul-kumpul, membicarakan dan bermain musik menjadi dominan. Sampai akhirnya kita membuat band dengan nama “Blues Bandung Raya”. Jadi bagi kebanyakan teman SMA, saya dicap sebagai anak band lengkap dengan segala pernak-pernik yang dianggap tipikal untuk anak band.
Ketika masuk ITB saya masih tetap suka blues, tapi saya tidak main band lagi. Saya bergabung dengan Laboratorium Fisika Teori dimana prestasi akademik dan membicarakan asal usul alam semesta menjadi perbincangan setiap hari. Karena itu teman-teman ITB saya cenderung menganggap saya sebagai “anak teori” yang selalu memikirkan hal akademis dan ilmiah.
Bagi saya bermain gitar blues dan melakukan penelitian ilmiah sama sekali bukan hal yang bertentangan. Keduanya saya nikmati, dan keduanya adalah bagian dari identitas saya. Keduanya adalah hasil dari usaha saya beradaptasi untuk “survive” dalam sebuah kelompok sosial (anak band waktu SMA dan Lab. fisika teori ketika di ITB) yang saya pilih untuk bergabung.
Jika kita anggap dunia sosial ini sebagai drama, maka kita semua adalah aktor yang bermain dari satu panggung pertunjukan ke panggung lain; setiap panggung memiliki aturan, norma, nilai, kebiasaan masing-masing. Ketika berada di satu panggung kita akan menyesuaikan diri dengan tema pertunjukan di panggung tersebut. Ini bukan berarti ada satu panggung di mana kita menjadi diri kita sebenarnya. Di setiap panggung kita selalu menjadi diri kita sebenarnya, tetapi karena setiap panggung memiliki pertunjukan masing-masing maka peran (identitas) yang muncul berbeda-beda.
Sekarang kita kembali ke media sosial.
Masalahnya adalah media sosial memaksa kita hanya memiliki satu identitas. CEO Google pernah berkata “jika kamu melakukan sesuatu yang tidak ingin diketahui semua orang, mungkin sebaiknya kamu jangan melakukannya”
Dengan pemikiran bahwa setiap orang memiliki identitas tunggal, maka Google berupaya menemukan algoritma yang dapat mendeteksi setiap kelompok sosial yang kita termasuk di dalamnya, dan menyajikannya dalam sebuah layanan terpadu seperti Google Buzz.
Sayangnya algoritma ini tidak mampu menangkap konteks dari mana relasi dalam jejaring sosial muncul. Kita sama-sama dekat dengan teman baik dan orang tua kita, tapi isi relasi antara teman dan orang tua sering kali berbeda. Algoritma google dapat menemukan bahwa ketika dua orang sering bertukar email maka keduanya memiliki hubungan khsusus; tapi tidak tahu apakah hubungannya hubungan suami-istri, pasangan selingkuhan, atau antara bos dan bawahan di tempat kerja.
Ketidakmampuan menampung multi identitas ini bisa menjadi bermasalah ketika kita ingin memisahkan identitas-identitas yang kita miliki. Pemisahan identitas ini memang menjadi peluang bisnis media sosial juga. Profil kita di LinkedIn dan facebook biasanya berbeda: di LinkedIn kita menampilkan sosok profesional, sedangkan di facebook sosok gaya-gayaan. Dalam hal ini pemisahan mudah dilakukan karena situsnya sendiri memiliki brand yang jelas berbeda.
Lain halnya dengan GMail. Kita menggunakan email untuk berkomunikasi dengan banyak orang; dari keluarga hingga teman klub sepak bola, dari relasi bisnis hingga teman dugem, dari kamerad politik hingga teman curhat. Karena itu tidak heran ketika Google Buzz membuat semua kontak email kita menjadi publik, muncul banyak protes.
Pelajaran yang dapat kita ambil adalah media sosial pada dasarnya adalah soal hubungan antar manusia. Sehinggga konsep teknologi atau algoritma yang dipakai harus disesuaikan dengan bagaimana kita berinteraksi secara natural dengan orang lain. Membuat algoritma yang sesuai dengan perilaku manusia lebih mudah daripada merubah perilaku manusia agar sesuai dengan teknologi atau algoritma. Karena itu pengembangan media sosial sudah sepantasnya melibatkan lebih banyak disiplin ilmu; bukan hanya ilmu komputer, design, bisnis, tetapi juga ilmu sosial dan psikologi.
—
Catatan:
- google yang merespon keberatan soal privasi di Google Buzz
http://gmailblog.blogspot.com/2010/02/new-buzz-start-up-experience-based-on.html
- contoh masalah identitas multi
http://gizmodo.com/5470696/fck-you-google
- ucapan CEO google bisa dibaca di sini:
http://gawker.com/5419271/google-ceo-secrets-are-for-filthy-people
February 19th, 2010 at 6:31 am
aku ga ngerti inti artikel ini, betele-tele, kesimpulan retorik, dan semuanya hanya hasil saduran dan terjemahan dari artikel yg lain.
kenapa kebanyakan org merasa pintar hanya dengan mengaungkan pemikiran org lain?
February 19th, 2010 at 1:03 pm
@orang jujur – inti artikelnya bisa dilihat dari bagian tulisan yang memakai huruf tebal. terima kasih kritiknya. jangan khawatir, saya tidak pernah merasa pintar; karenanya saya sekolah terus nggak berhenti2 selama 30 tahun
March 18th, 2010 at 8:28 am
[...] Google Buzz: Sosiologi Media Sosial oleh Roby Muhamad [...]
April 7th, 2010 at 1:30 am
Logika yang bagus dan menarik. Apa yg saya ingin tanya:
1. Apakah CEO Google segitu terbatas pengertiannya tentang identitas multi di internet?
2. Hari gini, tiap orang dapat punya identitas email banyak dan menggunakan masing-masing identitas itu untuk berhubungan dengan jaringan yang berbeda. Ketika ini dilangsungkan dengan konsisten, seharusnya GoogleBuzz aman. Tapi jika tidak, maka privacy menjadi robek.
Good article!