Jejaring Teroris

Hari ini berita utama Kompas melaporkan bahwa “Teroris berjejaring dalam sistem kekerabatan“. Saya ingin sedikit berkomentar mengenai apa arti atau implikasinya jika kita melihat terorisme sebagai fenomena jejaring.

Pertama, adalah soal bentuk organisasi teroris. Organisasi teroris (atau organisasi apapun) dapat memiliki struktur hirarkis dimana pemimpin pusat membuat dan mengatur segala kegiatan. Jika bentuknya hirarkis dimana ada kendali terpusat, maka untuk merusak organisasi jenis ini adalah dengan mentarget para pemimpinnya. Istilahnya, potong kepalanya maka seluruhnya akan lumpuh.

Jika organisasinya lebih berupa jejaring yang terdesentralisasi, maka strategi potong kepala tidak akan efektif. Dalam hal ini strategi yang efektif adalah fokus pada lokalitas-lokalitas dan berusaha mencegah terbentuknya jejaring atau kelompok baru. Lokalitas yang relevan bisa sekolah, kekerabatan, atau Internet.

Kedua, jika kita melihat teroris sebagai fenomena jejaring maka kita melihat terorisme sebagai fenomena kolektif, bukan fenomena individu. Melihat terorisme sebagai fenomena kolektif memiliki dua implikasi:

1. Adalah salah jika kita berusaha mencari profil teroris, karena tidak akan ada pola kuat dalam profil individu teroris. Tetapi ada pola serupa dalam proses menjadi teroris (rekrutmen). Setelah menjadi teroris baru mereka memiliki profil tertentu, tapi profil setelah menjadi teroris ini tidak berguna dipakai untuk mendeteksi bagaimana seseorang menjadi teroris.

2. Teroris biasanya berasal dari seseorang yang moderat terhadap suatu ideologi (baik ideologi agama atau sekuler), tetapi setelah masuk kelompok teroris maka mereka menjadi ekstrim secara ideologis. Artinya, ideologi bukan satu-satunya yang membuat seseorang menjadi teroris. Seseorang menjadi teroris lebih karena jejaring sosialnya: misalnya, diajak teman, keluarga atau seseorang yang dia hormati. Baru setelah bergabung terjadi indoktrinisasi.

Pandangan teroris sebagai fenomena kolektif ini didukung oleh data empiris. Ahli terorisme Marc Sageman misalnya menunjukkan bahwa kebanyakan orang bergabung dengan organisasi teror secara bersama-sama, bukan secara individu. Artinya telah ada proses pembuatan kelompok sebelum menjadi teroris. Teori ini biasa juga disebut teori “bunch of guys”, dimana sekelompok orang kumpul-kumpul dan lalu ada satu orang diantaranya tertarik dengan kegiatan teror sehingga yang lain terbawa.

Singkatnya, kita tidak bisa menebak individu mana yang akan menjadi teroris tetapi kita bisa melihat pola-pola di jejaring sosial bagaimana seseorang menjadi anggota kelompok teroris

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks

Leave a Reply

Spam Protection by WP-SpamFree


Switch to our mobile site