Tentang Sains dan Bisnis

Saat liburan seperti ini membuat saya memiliki waktu untuk menuliskan sebuah refleksi tentang dua hal yang saya geluti yaitu dunia sains dan bisnis. Selama ini hidup saya hanya berada di ranah sains, tetapi sejak tujuh bulan terakhir saya terlibat membangun sebuah startup data analytics bersama teman-teman yang luar biasa maka saya mulai merefleksikan hidup sebagai ilmuwan dan pengusaha.

Biasanya, sains dan bisnis dianggap sebagai dua hal yang saling bertolak belakang: sains adalah proses mencari kebenaran, sedangkan bisnis adalah proses mencari keuntungan finansial. Kebenaran dan uang, sepertinya dua hal yang tidak mungkin dicampurkan.

Pertama, saya harus klarifikasi dulu definisi bisnis yang cukup umum yaitu bisnis adalah proses mendapatkan uang. Tentu ini ada benarnya, tapi terlalu sinis. Ilmuwan pun memperoleh uang melalui hibah riset atau gaji yang naik seiring dengan reputasinya yang meninkat akibat banyaknya publikasi ilmiah. Disini, saya artikan bisnis adalah proses pemecahan masalah. Ketika kita bisa memberikan solusi pada sebuah masalah, maka apa yang kita lakukan dianggap bernilai oleh orang lain dan dalam bisnis nilai ini direpresentasikan dengan uang (dalam sains, nilai muncul dari karya ilmiah; pengusaha menumpuk uang, sedangkan ilmuwan menumpuk artikel ilmiah, keduanya senang menumpuk).

Tetapi sains dan bisnis keduanya bisa dilakukan dengan semangat yang sama, yaitu semangat empirisme. Disini semangat empirisme diartikan sebagai semangat yang mengedepankan bukti dan fakta yang sering kali dikumpulkan melalui proses eksperimen.

Ilmuwan dan pengusaha sama-sama berawal dari ketidaktahuan. Ilmuwan tidak mengetahui bagaimana realitas alam bekerja, sedangkan pengusaha tidak tahu pasti apa yang diinginkan oleh pasar. Keduanya berasal dari ketidaktahuan, tapi juga mereka biasanya memiliki keyakinan kuat tentang prinsip-prinsip dasar bagaimana realitas alam bekerja dan pasar bekerja.

Untuk mengatasi ketidaktahuan ini, baik ilmuwan dan pengusaha mencoba mengatasinya melalui usaha coba-coba alias eksperimen. Saya pikir jiwa eksperimentasi harus menjadi inti bagi mereka yang ingin menjadi ilmuwan atau pengusaha. Disini saya mengartikan eksperimen dalam arti luas. Bagi ilmuwan eksperimen bisa berupa manipulasi fisik hingga manipulasi matematik, komputasi dan logika. Bagi pengusaha, eksperimennya lebih pas ditangkap dalam frasa “jatuh-bangun membangun usaha.”

Jadi terlihat bahwa sains dan bisnis, keduanya sama-sama memerlukan komitmen pada empirisme dan eksperimen.

Meskipun demikian, karena sains dan bisnis memiliki tujuan yang berbeda, maka metode empiris dan eksperimennya berbeda pula. Secara fundamental sains bertujuan untuk mengerti realitas. Karena realitas ini begitu rumit, maka untuk benar-benar mengerti kita memerlukan metode sistematis yang digunakan secara sangat hati-hati. Sains dijalankan secara tidak efisien; pengulangan, jalan buntu adalah hal biasa dalam sains. Sedangkan bisnis bertujuan untuk memecahkan masalah dimana solusinya semakin bernilai jika dilakukan secara efisien.

Sepintas, ilmuwan dan pengusaha terlihat berbeda. Tetapi perbedaan ini hanya di permukaan saja. Keduanya memang profesi berbeda, tapi kalau kita lihat lebih dalam dari sekedar label profesi, maka muncul benang merah – paling tidak untuk saya – yaitu kecintaan terhadap eksplorasi dan eksperimentasi membuat saya nyaman berada di dunia sains dan bisnis secara bersamaan.

Karena ini refleksi pribadi maka apa yang ditulis disini belum tentu tepat bagi orang lain. Saya beruntung karena wilayah bisnis yang saya geluti adalah dunia digital dimana kuantifikasi perilaku manusia menjadi salah satu hal penting. Proses kuantifikasi, baik untuk sains dan bisnis, tidak jauh berbeda.

Jadi memang profesi tidak sama dengan identitas. Profesi adalah label dan sinyal yang memudahkan kita hidup di dunia sosial. Identitas adalah soal konsistensi antara masa lalu, masa kini, dan masa depan.

 

 

Tentang Curiosity

Yang pernah mengobrol tentang sains sama saya pasti hafal bahwa buat saya curiosity adalah pendorong utama hidup saya. Meskipun curiosity (saya masih belum menemukan terjemahan Indonesia yang pas, keingintahuan atau kepo?) penting tetapi apa sebenarnya curiosity itu belum terlalu jelas buat saya.

Jadi ketika saya menemukan buku berjudul Curiosity karya Philip Ball, saya langsung membelinya tanpa pikir panjang. Btw, saya pertama kali mengenal Philip Ball dengan bukunya Critical Mass dan kagum akan kemampuan dia menangkan esensi sains jejaring dalam bahasa popular. Dia seorang penulis sains bagus.

Kembali ke curiosity, di awal buku Curiosity dibahas bahwa ternyata ada dua pengertian curiosity yang keduanya saling bertentangan.

Pengertian pertama, curiosity diartikan sebagai motivasi para saintis dan peneliti untuk mengerti bagaimana sesuatu bekerja. Mengerti bisa diartikan sebagai menjinakkan. Jadi curiosity adalah salah satu cara untuk menaklukan dunia.

Tetapi ada pengertian lain dari curiosity yang dituliskan oleh Michel Foucault. Kutipannya begini:

Curiosity is a vice that has been stigmatized in turn by Christianity, by philosophy, and even by a certain conception of science. Curiosity, futility. The word, however, pleases me. To me it suggests something altogether different; it evokes ‘concern’; it evokes the care one takes for what exists and could exist; a readiness to find strange and singular what surround us; a certain readiness to break up our familiarities and to regard otherwise the same things; a fervor to grasp what is happening and what passes; a casualness in regard to the traditional hierarchies of the important and the essential.

Menurut Foucault, curiosity adalah sesuatu yang liar, aneh, misterius membuat kita berkhayal dan berimajinasi kemana-mana. Kebalikan dari arti curiosity yang menganggapnya sebagai usaha untuk mengerti dan mengkontrol dunia. Di satu sisi curiosity sebagai sekaligus keindahan dan hasrat tak terbendung. Sisi lainnya, curiosity sebagai mesin pengetahuan dan kekuasaan.

Bukunya Philip Ball ini berusaha menjawab pertanyaan mengapa terdapat dua pengertian curiosity yang saling bertolak belakang? Dapatkah kedua pengertian tersebut disatukan? Bagaimana sejarah pengertian-pengertian curiosity?

Saya sendiri baru mulai membacanya. Tapi dari dua interpretasi curiosity di atas, menurut anda interpretasi mana yang lebih anda pilih?

 

Bagaimana kucing minum? : Contoh Sains Bekerja

Bagi kita minum adalah sesuatu yang rutin dan tidak pernah kita pikirkan secara serius. Tetapi skill untuk minum ini sebetulnya unik. Minum mudah bagi spesies yang dapat menyedot menggunakan bibirnya, tapi banyak spesies lain tidak memiliki kemampuan ini; misalnya anjing dan kucing.

Anjing minum dengan memasukkan lidahnya ke air dan membentuk semacam cawan untuk menampung air yang lalu dimasukkan ke mulutnya.

Cara kucing minum ternyata lebih canggih dan elegan.

Menurut penelitian oleh para ilmuwan di Amerika, cara kucing minum adalah dengan menyentuh air dengan ujung lidahnya lalu menariknya membentuk pilar air kecil. Tepat sebelum pilar itu runtuh karena tarikan gravitasi, mulut kucing menutup dan minum. Lihat gambar dibawah ini.

Ini adalah contoh sederhana bagaimana sains bekerja.

  1. Observasi. Penelitian ini dimulai ketika salah seorang penelitinya mengamati kucing miliknya sedang sarapan. Dari observasi tersebut dia melihat bahwa proses kucing minum adalah sebuah pencapaian biomekanik yang mencengangkan. Selanjutnya dia berkonsultasi dengan ahli dinamika fluida tentang bagaimana kucing dapat menyelesaikan sebuah problem dinamika hidro yang rumit. Mereka setuju ada masalah ilmiah menarik untuk diteliti lebih lanjut.
  2. Eksperimen. Untuk mengerti sebuah fenomena alam, observasi saja tidak cukup. Perlu dilakukan eksperimen agar kita bisa melakukan manipulasi sehingga kita benar-benar mengerti. Disini, tim peneliti selanjutnya meminjam robot dari tim lain dan melakukan berbagai eksperimen serta mengukur berbagai metrik yang mengkarakterisasi proses kucing minum ini.
  3. Teori. Dari hasil eksperimen, para peneliti mampu membuat model bagaimana kucing minum. Untuk menjadi teori ilmiah yang baik, model ini harus bisa menjelaskan fenomena serupa di konteks berbeda. Dalam hal ini, tim peneliti melihat spesies kucing lain dengan berbagai ukuran, dari kucing rumah hingga singa. Teori mereka ternyata dapat memprediksi kecepatan seekor kucing minum dari berat bada kucing tersebut.

Inilah contoh bagaiman rasa ingin tahu (curiousity) menjadi pendorong utama untuk memajukan pengetahuan manusia.

Juga jangan lewatkan wawancara menghibur dengan para penelitinya disini.

 

 

Kepercayaan dan rasionalitas.

Bisakah orang memiliki kepercayaan tanpa rasionalitas? atau sebaliknya, rasionalitas tanpa kepercayaan?

Salah satu debat utama dalam ilmu sosial adalah apakah kepercayaan mendahului rasionalitas atau sebaliknya. Sebuah riset oleh ekonom menunjukkan bahwa kepercayaan (apakah seseorang percaya bahwa dia punya harapan atau tidak) memiliki efek cukup besar dalam menentukan apakah dia dapat keluar dari kemiskinan atau tidak.

Biasanya orang tetap berada dalam kemiskinan karena tidak percaya akan adanya harapan untuk keluar dari kemiskinan.

Development economists have long surmised that some very poor people may remain trapped in poverty because even the largest investments they are able to make, whether eating a few more calories or working a bit harder on their minuscule businesses, are too small to make a big difference. So getting out of poverty seems to require a quantum leap—vastly more food, a modern machine, or an employee to mind the shop. As a result, they often forgo even the small incremental investments of which they are capable: a bit more fertiliser, some more schooling or a small amount of saving.

Ternyata membuat orang percaya bahwa dirinya punya harapan untuk keluar dari kemiskinan memang dapat membebaskannya dari kemiskinan dengan berperilaku rasional. Selanjutnya jika memang rasionalitas didirikan di atas kepercayaan, pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana kepercayaan dikonstruksi sehingga diterima oleh banyak orang.

Singkatnya apa mekanisme yang membuat orang percaya apa yang dia percaya? Pertanyaan ini adalah salah satu pertanyaan yang dicoba dijawab oleh riset-riset di grup riset kami. Untuk menjawabnya kita merasa perlu mengerti narasi dan bahasa karena melalui keduanyalah kepercayaan ditransmisikan.

 

Artikel lengkapnya:

Free exchange: Hope springs a trap | The Economist.

Ilmuwan = pengusaha kecil?

Kebanyakan orang berpikir bahwa dunia ilmu pengetahuan berbeda dengan dunia bisnis: yang pertama fokus pada pemuasan rasa ingin tahu manusia untuk mengerti alam, dan yang kedua fokus pada pengumpulan profit. Tetapi praktek sains modern saat ini sepertinya mendorong dunia sains menjadi seperti dunia bisnis.

Dalam sebuah artikel yang membahas ini,

Dr. Ness likens scientists today to small-business owners, rather than people trying to satisfy their curiosity about how the world works. “You’re marketing and selling to other scientists,” she said. “To the degree you can market and sell your products better, you’re creating the revenue stream to fund your enterprise.”

Akibat dari dorongan kompetisi yang berlebihan ini, artikel tersebut melaporkan bahwa kecurangan diantara ilmuwan semakin meningkat akhir-akhir ini.

Ilmuwan tidak berbeda seperti pengusaha kecil, tapi yang dikumpulkan bukan uang melainkan artikel ilmiah. Malah di beberapa negara seperti Cina, India, dan republik kita tercinta ini, secara eksplisit disediakan insentif uang tunai untuk setiap artikel ilmiah yang diterbitkan di jurnal ilmiah top.

Bagi mereka yang tertarik dunia sains mutakhir, ada baiknya anda membaca artikel lengkapnya disini:

Rise in Scientific Journal Retractions Prompts Calls for Reform – NYTimes.com.

Kompetisi tentunya salah satu aspek penting dalam perkembangan pengetahuan manusia. Tetapi ini salah satu akibat jika kita terobsesi hanya pada kompetisi saja. Baca juga  ini dan ini yang memberikan paparan bahwa kompetisi bukan segalanya dalam dunia modern ini.

 

Masalah individu dan kumpulan individu

Secara sadar atau tidak, kita sering membuat asumsi (implisit) bahwa karakteristik kumpulan individu serupa dengan individu-individu dalam kumpulan tersebut. Salah satu contohnya adalah pada debat pasar vs negara. Sederhananya, pihak pro pasar berargumen bahwa mekanisme pasar cara terbaik menyelesaikan berbagai masalah sosial dan ekonomi; sebaliknya yang pro negara menganggap pasar didomnasi kepentingan korporasi besar sehingga negara lah yang sebaiknya menyelesaikan masalah-masalah tersebut.

Masalahnya, kita sebenarnya belum mengerti apa itu pasar atau negara.

Kalimat di atas kemungkinannya akan membuat heran atau malah bahan tertawaan para ekonom, ahli politik atau ilmuwan sosial lainnya.

Meskipun disini bukan tempat memberikan argumennya secara lengkap, tetapi secara sederhananya kita belum mengerti benar apa itu pasar atau negara karena  baik argumen pro pasar maupun pro negara sama-sama memakai asumsi bahwa pasar atau negara seperti individu yang memiliki motivasi dan bertindak. Padahal pasar dan negara adalah kumpulan individu. Pada awalnya asumsi ini dibuat untuk mempermudah analisis, sehingga memang pada awalnya asumsi ini berguna.

Dalam sosiologi, masalah individu dan kumpulannya ini dikenal sebagai masalah mikro-makro. Dalam ekonomi dikenal sebagai masalah agen representasi. Salah satu contoh kritik terhadap representasi agen dalam ekonomi bisa dibaca dalam paper oleh ekonom Alan Kirman di Journal of Economic Perspectives tahun 1992 [PDF]. Kirman menulis

Given the arguments presented here – that well-behaved individuals need not produce a well-behaved representative agent; that the reaction of a representative agent to change need not reflect how the individuals of the economy would respond to change; that the preferences of a representative agent over choices may be diametrically opposed to those of society as a whole – it is clear that the representative agent should have no future.

Untuk mengerti pasar atau negara, kita tidak bisa berhenti pada asumsi di atas. Kita perlu mengerti interaksi kompleks antar individu heterogen secara eksplisit. Nah, kemampuan kita mengerti sistem kompleks – yaitu sistem yang terdiri dari komponen heterogen yang saling berinteraksi – masih sedikit.

Lalu apa jalan keluarnya?

Kalau buat saya daripada debat pada level sangat abstrak seperti pasar atau negara, lebih baik debat di level mekanisme yang relevan; misalnya inequality, homogenisasi, keragaman, ekploitasi. Jika fokus pada mekanisme, kadang-kadang terlihat pasar dan negara sama-sama bersalah, atau malah keduanya bukan penyebab. Misalnya, inequality yang masif bisa terjadi tanpa mekanisme pasar; atau mekanisme pasar yang menjanjikan kebebasan individu justru bisa mengancam pluralisme relasi.

 

 

Mengapa retorika kompetisi tidak cocok untuk inovasi

Sebuah artikel bagus menjelaskan mengapa argumen kompetitif tidak cocok diterapkan dalam dunia inovatif seperti riset sains. Kita sering mendengar kita memerlukan inovasi atau riset sains untuk “mengejar ketertinggalan” atau demi “kejayaan bangsa”. Asumsinya disini adalah inovasi dari riset lahir melalui perlombaan kompetisi seperti dalam olah raga.

Artikel tersebut memang dalam konteks riset di Amerika, tapi saya pikir argumennya secara umum tetap menarik: argumen atau metafor kompetisi ini tidak cocok dalam hal inovasi riset:

The extremely complicated interactions between countries—goods, people, culture, and ideas all flowing back and forth—are not akin to a sporting competition. To pretend that we are all engaged in a giant worldwide track meet for economic domination serves the interest of business above individuals.

Secara umum retorika riset untuk sebuah kejayaan seringkali kontradiktif:

Competition rhetoric can be used to incite hysteria—“We are falling behind!—and to inspire pride—“We’re number one!” Weirdly, the competitiveness crowd often argues both of these at the same time: We are the greatest country on earth even as our schools are failing.

Ini sering terjadi di Indonesia: membanggakan prestasi seorang individu atau kelompok dari masa lalu atau masa kini sebagai “bukti” kejayaan Indonesia sekaligus ketertinggalan kita.

Saya termasuk yang setuju bagi kita untuk meninggalkan retorika kompetisi dan menggantinya dengan retorika berbagi. Karena poin utama dari inovasi riset yang berhasil bukanlah keuntungan pribadi, kelompok atau bahkan kejayaan bangsa saja, tetapi kegunaan inovasi tersebut menyebar dan akhirnya digunakan oleh siapa saja. Fakta Internet ditemukan di Amerika kalah maknanya oleh fakta Internet dipakai dan berguna bagi miliaran orang di dunia.

Tantangan Sains Popular

Sebuah artikel penting: Freakonomics: What Went Wrong, oleh Andrew Gelman dan Kaiser Fung membahas beberapa hal yang bisa membuat sebuah usaha mempopulerkan sains tergelincir dengan membuat kesalahan yang sebetulnya bisa dihindari. Tulisannya lebih mengenai popularisasi penerapan statistik di ilmu sosial, tapi saya pikir bisa dijadikan referensi bagi para ilmuwan yang tertarik dengan popularisasi sains.

Gelman dan Fung membahas bagaimana sebuah karya sains populer yang bagus seperti Freakonomics tergelincir menjadi sebuah brand yang melakukan kesalahan yang tak perlu.

Saya anjurkan anda membaca artikelnya secara lengkap, disini saya hanya tulis beberapa poin saja:

  • Bias disiplin ilmu atau pertemanan. Sebuah disiplin ilmu adalah spesialisasi. Dari spesialisasinya terkadang muncul penemuan yang cukup umum sehingga relevan terhadap publik. Ketika menjadi cukup umum, biasanya ada beberapa disiplin ilmu yang merasa lebih berhak melakukan klaim. Gelman dan Fung memberikan contoh ketika ekonom Emily Oster melakukan kesalahan dan mengakui kesalahannya, para ekonom merayakannya sebagai contoh kejujuran ilmiah; tetapi mereka tidak menyebut hasil penelitian oleh Monica Das Gupta yang lebih baik dan benar. Karena bias disiplin ilmu atau pertemanan ini, ilmuwan dapat tergelincir dengan lebih peduli pada membela kolega atau disiplin ilmunya daripada ilmu itu sendiri. Gelman dan fung menulis

Our point is not that Das Gupta had to be right and Oster wrong, but that Levitt and Dubner, in their celebration of economics and economists, suspended their critical thinking.

 

  • Adanya jurang antara riset sebenarnya dengan beritanya di media. Berita di media cenderung tidak akurat ketika memberitakan hasil riset ke publik. Gelman dan Fung menulis seperti ini (sebuah penjelasan yang khas Gelman):

It’s hard to be sure what process an author uses. But by appearances, the way the authors of the Freakonomics series make their work is too linear to provide adequate vetting of research. In SuperFreakonomics, for instance, economist Steven Levitt trusts authors of primary research whom he knows or respects. Journalist Stephen J. Dubner trusts Levitt’s assessment of their work, and together they create narratives about it. The book’s editors seem by and large to have trusted the authors’ account, delivering it to readers who place trust in the Freakonomics brand. Although there may be more opportunities for feedback along the way than outsiders can discern, the problems and errors encountered in the authors’ work suggest that there is room for improvement.

 

  • Pentingnya tidak menurunkan standar sains menjadi sekedar cerita yang masuk akal  (“plausible stories”) atau argumentasi dengan data (“data-supported reasoning”); sains lebih dari keduanya. Mengutip penemuan ilmiah tidak menjadikannya sains; juga penggunaan data tidak otomatis menjadikannya sains. Kita harus melihat persoalan dari berbagai sudut pandang, dan selalu melihat penjelasan lain yang mungkin bisa terjadi. Sains memaksa kita untuk selalu melihat alternatif-alternatif yang ada.
  • Keinginan untuk menghasilkan riset yang “menarik”, counterintuitive melawan “akal sehat” atau pandangan umum yang berlaku. Akhir-akhir ini, riset yang berhubungan dengan perilaku manusia dan fenomena sosial yang mendapat publikasi besar di media massa adalah riset-riset yang seolah-olah bertentangan dengan apa yang diyakini kebanyakan orang. Keinginan untuk mendapatkan hasil menarik ini dapat membuat ilmuwan lengah dalam menjaga kekukuhan argumen.
  • Berhubungan dengan poin sebelumnya yaitu penyakit popularitas. Sekali menjadi popular, orang (termasuk ilmuwan) cenderung ingin mempertahankan popularitasnya. Akibatnya tuntutan untuk menghasilkan karya-karya besar dan menarik semakin tinggi, deadline yang semakin banyak yang akhirnya dapat menurunkan kualitas riset.

Sains populer adalah bagian dari tanggung jawab ilmuwan kepada masyarakat. Tetapi, seperti hal-hal popular pada umumnya, popularitas cenderung membuat kedangkalan dan akurasi yang menurun. Tantangannya tentu membuat sains popular yang tidak mengelabui publik akibat kedangkalan dan ketidak akurasiannya.