Masalah individu dan kumpulan individu

Secara sadar atau tidak, kita sering membuat asumsi (implisit) bahwa karakteristik kumpulan individu serupa dengan individu-individu dalam kumpulan tersebut. Salah satu contohnya adalah pada debat pasar vs negara. Sederhananya, pihak pro pasar berargumen bahwa mekanisme pasar cara terbaik menyelesaikan berbagai masalah sosial dan ekonomi; sebaliknya yang pro negara menganggap pasar didomnasi kepentingan korporasi besar sehingga negara lah yang sebaiknya menyelesaikan masalah-masalah tersebut.

Masalahnya, kita sebenarnya belum mengerti apa itu pasar atau negara.

Kalimat di atas kemungkinannya akan membuat heran atau malah bahan tertawaan para ekonom, ahli politik atau ilmuwan sosial lainnya.

Meskipun disini bukan tempat memberikan argumennya secara lengkap, tetapi secara sederhananya kita belum mengerti benar apa itu pasar atau negara karena  baik argumen pro pasar maupun pro negara sama-sama memakai asumsi bahwa pasar atau negara seperti individu yang memiliki motivasi dan bertindak. Padahal pasar dan negara adalah kumpulan individu. Pada awalnya asumsi ini dibuat untuk mempermudah analisis, sehingga memang pada awalnya asumsi ini berguna.

Dalam sosiologi, masalah individu dan kumpulannya ini dikenal sebagai masalah mikro-makro. Dalam ekonomi dikenal sebagai masalah agen representasi. Salah satu contoh kritik terhadap representasi agen dalam ekonomi bisa dibaca dalam paper oleh ekonom Alan Kirman di Journal of Economic Perspectives tahun 1992 [PDF]. Kirman menulis

Given the arguments presented here – that well-behaved individuals need not produce a well-behaved representative agent; that the reaction of a representative agent to change need not reflect how the individuals of the economy would respond to change; that the preferences of a representative agent over choices may be diametrically opposed to those of society as a whole – it is clear that the representative agent should have no future.

Untuk mengerti pasar atau negara, kita tidak bisa berhenti pada asumsi di atas. Kita perlu mengerti interaksi kompleks antar individu heterogen secara eksplisit. Nah, kemampuan kita mengerti sistem kompleks – yaitu sistem yang terdiri dari komponen heterogen yang saling berinteraksi – masih sedikit.

Lalu apa jalan keluarnya?

Kalau buat saya daripada debat pada level sangat abstrak seperti pasar atau negara, lebih baik debat di level mekanisme yang relevan; misalnya inequality, homogenisasi, keragaman, ekploitasi. Jika fokus pada mekanisme, kadang-kadang terlihat pasar dan negara sama-sama bersalah, atau malah keduanya bukan penyebab. Misalnya, inequality yang masif bisa terjadi tanpa mekanisme pasar; atau mekanisme pasar yang menjanjikan kebebasan individu justru bisa mengancam pluralisme relasi.

 

 

Mengapa retorika kompetisi tidak cocok untuk inovasi

Sebuah artikel bagus menjelaskan mengapa argumen kompetitif tidak cocok diterapkan dalam dunia inovatif seperti riset sains. Kita sering mendengar kita memerlukan inovasi atau riset sains untuk “mengejar ketertinggalan” atau demi “kejayaan bangsa”. Asumsinya disini adalah inovasi dari riset lahir melalui perlombaan kompetisi seperti dalam olah raga.

Artikel tersebut memang dalam konteks riset di Amerika, tapi saya pikir argumennya secara umum tetap menarik: argumen atau metafor kompetisi ini tidak cocok dalam hal inovasi riset:

The extremely complicated interactions between countries—goods, people, culture, and ideas all flowing back and forth—are not akin to a sporting competition. To pretend that we are all engaged in a giant worldwide track meet for economic domination serves the interest of business above individuals.

Secara umum retorika riset untuk sebuah kejayaan seringkali kontradiktif:

Competition rhetoric can be used to incite hysteria—“We are falling behind!—and to inspire pride—“We’re number one!” Weirdly, the competitiveness crowd often argues both of these at the same time: We are the greatest country on earth even as our schools are failing.

Ini sering terjadi di Indonesia: membanggakan prestasi seorang individu atau kelompok dari masa lalu atau masa kini sebagai “bukti” kejayaan Indonesia sekaligus ketertinggalan kita.

Saya termasuk yang setuju bagi kita untuk meninggalkan retorika kompetisi dan menggantinya dengan retorika berbagi. Karena poin utama dari inovasi riset yang berhasil bukanlah keuntungan pribadi, kelompok atau bahkan kejayaan bangsa saja, tetapi kegunaan inovasi tersebut menyebar dan akhirnya digunakan oleh siapa saja. Fakta Internet ditemukan di Amerika kalah maknanya oleh fakta Internet dipakai dan berguna bagi miliaran orang di dunia.

Tantangan Sains Popular

Sebuah artikel penting: Freakonomics: What Went Wrong, oleh Andrew Gelman dan Kaiser Fung membahas beberapa hal yang bisa membuat sebuah usaha mempopulerkan sains tergelincir dengan membuat kesalahan yang sebetulnya bisa dihindari. Tulisannya lebih mengenai popularisasi penerapan statistik di ilmu sosial, tapi saya pikir bisa dijadikan referensi bagi para ilmuwan yang tertarik dengan popularisasi sains.

Gelman dan Fung membahas bagaimana sebuah karya sains populer yang bagus seperti Freakonomics tergelincir menjadi sebuah brand yang melakukan kesalahan yang tak perlu.

Saya anjurkan anda membaca artikelnya secara lengkap, disini saya hanya tulis beberapa poin saja:

  • Bias disiplin ilmu atau pertemanan. Sebuah disiplin ilmu adalah spesialisasi. Dari spesialisasinya terkadang muncul penemuan yang cukup umum sehingga relevan terhadap publik. Ketika menjadi cukup umum, biasanya ada beberapa disiplin ilmu yang merasa lebih berhak melakukan klaim. Gelman dan Fung memberikan contoh ketika ekonom Emily Oster melakukan kesalahan dan mengakui kesalahannya, para ekonom merayakannya sebagai contoh kejujuran ilmiah; tetapi mereka tidak menyebut hasil penelitian oleh Monica Das Gupta yang lebih baik dan benar. Karena bias disiplin ilmu atau pertemanan ini, ilmuwan dapat tergelincir dengan lebih peduli pada membela kolega atau disiplin ilmunya daripada ilmu itu sendiri. Gelman dan fung menulis

Our point is not that Das Gupta had to be right and Oster wrong, but that Levitt and Dubner, in their celebration of economics and economists, suspended their critical thinking.

 

  • Adanya jurang antara riset sebenarnya dengan beritanya di media. Berita di media cenderung tidak akurat ketika memberitakan hasil riset ke publik. Gelman dan Fung menulis seperti ini (sebuah penjelasan yang khas Gelman):

It’s hard to be sure what process an author uses. But by appearances, the way the authors of the Freakonomics series make their work is too linear to provide adequate vetting of research. In SuperFreakonomics, for instance, economist Steven Levitt trusts authors of primary research whom he knows or respects. Journalist Stephen J. Dubner trusts Levitt’s assessment of their work, and together they create narratives about it. The book’s editors seem by and large to have trusted the authors’ account, delivering it to readers who place trust in the Freakonomics brand. Although there may be more opportunities for feedback along the way than outsiders can discern, the problems and errors encountered in the authors’ work suggest that there is room for improvement.

 

  • Pentingnya tidak menurunkan standar sains menjadi sekedar cerita yang masuk akal  (“plausible stories”) atau argumentasi dengan data (“data-supported reasoning”); sains lebih dari keduanya. Mengutip penemuan ilmiah tidak menjadikannya sains; juga penggunaan data tidak otomatis menjadikannya sains. Kita harus melihat persoalan dari berbagai sudut pandang, dan selalu melihat penjelasan lain yang mungkin bisa terjadi. Sains memaksa kita untuk selalu melihat alternatif-alternatif yang ada.
  • Keinginan untuk menghasilkan riset yang “menarik”, counterintuitive melawan “akal sehat” atau pandangan umum yang berlaku. Akhir-akhir ini, riset yang berhubungan dengan perilaku manusia dan fenomena sosial yang mendapat publikasi besar di media massa adalah riset-riset yang seolah-olah bertentangan dengan apa yang diyakini kebanyakan orang. Keinginan untuk mendapatkan hasil menarik ini dapat membuat ilmuwan lengah dalam menjaga kekukuhan argumen.
  • Berhubungan dengan poin sebelumnya yaitu penyakit popularitas. Sekali menjadi popular, orang (termasuk ilmuwan) cenderung ingin mempertahankan popularitasnya. Akibatnya tuntutan untuk menghasilkan karya-karya besar dan menarik semakin tinggi, deadline yang semakin banyak yang akhirnya dapat menurunkan kualitas riset.

Sains populer adalah bagian dari tanggung jawab ilmuwan kepada masyarakat. Tetapi, seperti hal-hal popular pada umumnya, popularitas cenderung membuat kedangkalan dan akurasi yang menurun. Tantangannya tentu membuat sains popular yang tidak mengelabui publik akibat kedangkalan dan ketidak akurasiannya.