Kepercayaan dan rasionalitas.

Bisakah orang memiliki kepercayaan tanpa rasionalitas? atau sebaliknya, rasionalitas tanpa kepercayaan?

Salah satu debat utama dalam ilmu sosial adalah apakah kepercayaan mendahului rasionalitas atau sebaliknya. Sebuah riset oleh ekonom menunjukkan bahwa kepercayaan (apakah seseorang percaya bahwa dia punya harapan atau tidak) memiliki efek cukup besar dalam menentukan apakah dia dapat keluar dari kemiskinan atau tidak.

Biasanya orang tetap berada dalam kemiskinan karena tidak percaya akan adanya harapan untuk keluar dari kemiskinan.

Development economists have long surmised that some very poor people may remain trapped in poverty because even the largest investments they are able to make, whether eating a few more calories or working a bit harder on their minuscule businesses, are too small to make a big difference. So getting out of poverty seems to require a quantum leap—vastly more food, a modern machine, or an employee to mind the shop. As a result, they often forgo even the small incremental investments of which they are capable: a bit more fertiliser, some more schooling or a small amount of saving.

Ternyata membuat orang percaya bahwa dirinya punya harapan untuk keluar dari kemiskinan memang dapat membebaskannya dari kemiskinan dengan berperilaku rasional. Selanjutnya jika memang rasionalitas didirikan di atas kepercayaan, pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana kepercayaan dikonstruksi sehingga diterima oleh banyak orang.

Singkatnya apa mekanisme yang membuat orang percaya apa yang dia percaya? Pertanyaan ini adalah salah satu pertanyaan yang dicoba dijawab oleh riset-riset di grup riset kami. Untuk menjawabnya kita merasa perlu mengerti narasi dan bahasa karena melalui keduanyalah kepercayaan ditransmisikan.

 

Artikel lengkapnya:

Free exchange: Hope springs a trap | The Economist.

Bagaimana membuat organisasi yang etis?

Psikolog moral yang sedang bersinar Jonathan Haidt menjadi dosen di sekolah bisnis NYU. Menarik membaca apa yang akan dia kerjakan:

Within the Business and Society Program at NYU Stern, Haidt aims to integrate research on moral psychology with research and theory in business ethics, seeking the best ways to create organizations that function as ethical systems, with only minimal need for directly training people to behave ethically. He will create a course at Stern called “Ethical Systems Design.”

Usaha yang penting dan menarik. Menghadapi masalah etika ini biasanya fokus ke perubahan individu melalui pelatihan etika secara eksplisit, atau memanipulasi insentif individu. Saya tidak tahu bagaimana Haidt akan melakukan ini, tapi melihat pemikiran dia yang mengatakan bahwa basis moral itu adalah aspek sosial, sepertinya dia akan ambil serius dinamika interaksi sosialnya.

Berita lengkapnya:

Renowned Social Psychologist Jonathan Haidt Joins NYU Stern School of Business – MarketWatch.

Pusat riset Microsoft untuk ilmu sosial komputasi dan eksperimen

Baru mendapat berita luar biasa bahwa Microsoft membuka Lab baru di New York yang akan fokus pada ilmu sosial dan perilaku manusia berbasis komputasi, eksperimen dan data skala besar. Ilmuwan pendirinya terdiri dari ekonom, computer scientist, psychologist, sosiolog, dan data scientist kelas berat. Beberapa diantaranya yang saya kenal seperti Duncan Watts, Dan Goldstein, dan Sharad Goel termasuk orang-orang terpintar dan kreatif yang pernah saya temui.

Mereka adalah veteran Yahoo Research yang ditutup. Yang hebat mereka berhasil meyakinkan Microsoft untuk membuat Lab baru khusus untuk mereka.

Gak sabar melihat karya-karya mereka yang akan keluar dari Lab baru ini. Melihat bagaimana sains dasar, sains terapan dan produk industri dikombinasikan sepertinya akan menghasilkan terobosan baru.

Berikut beberapa beritanya:

Microsoft Research Debuts N.Y.C. Lab – Microsoft Research.

http://socialmediacollective.org/2012/05/03/msr-nyc/

http://blogs.technet.com/b/inside_microsoft_research/archive/2012/05/01/start-spreading-the-news-announcing-microsoft-research-new-york-city.aspx

Kekuatan media sosial justru karena sifatnya yang maya

Media sosial sering dikritik karena sifatnya yang maya dimana identitas orang tidak ditampilkan secara utuh. Mengutip sebuah penelitian psikologi sosial, dalam artikel berikut saya memberikan argumen bahwa justru sifat maya tersebut dapat membantu pembentukan identitas kolektif yang sangat diperlukan oleh sebuah gerakan perubahan sosial. Saya menulis:

Ketika seluruh identitas individu tidak tersampaikan dengan jelas, seperti halnya ketika berinteraksi dalam dunia maya, maka identitas yang nampak hanyalah identitas yang relevan pada saat itu. Identitas-identitas lain yang bisa jadi berseberangan dengan identitas kolektif yang ingin dibangun jadi tidak terlihat.; karena keragaman identitas yang dimiliki individu tereduksi dalam dunia maya dan hanya identitas yang relevan dengan gerakan yang muncul maka identitas kolektif lebih mudah terbentuk.

 

Artikel lengkapnya ada di jakartabeat.net

“Revolusi” keilmuan mungkin terjadi

Kawan saya Ape di cafesalemba menuliskan bahwa dalam ilmu ekonomi “hampir semua ide besar sudah ditemukan” sehingga pekerjaan utama sekarang adalah mengisi detail-detail ilmu ekonomi, bukan ‘merevolusi’ ilmu ekonomi. Lengkapnya begini

Honestly, the room for another revolution is getting much and much smaller now. Most big ideas have been delivered. The frontiers have been pretty much explored. Of course, there are still many unexplored spots in the forest. That is the real call: to fill the missing puzzles through new theoretical and empirical researches.

Entah kenapa saya merasa ada yang aneh dengan pernyataan di atas. Tidak seperti jamannya ketika menjadi mahasiswa doktoral dimana saya langsung ngeyel protes di blog keren cafesalemba tersebut, saya coba endapkan dan pikirkan sebetulnya apa yang menurut saya tidak pas dengan pernyataan Ape.

Setelah dipikir-pikir, ternyata keberatan saya bemuara pada cara saya memandang ilmu ekonomi, psikologi, ilmu sosial dan segala ilmu yang berusaha mengerti perilaku manusia dan masyarakat. Berbagai cabang disiplin ilmu perilaku dan sosial itu bagi saya adalah berbagai pendekatan untuk mengerti manusia dan masyarakat. Karena latar belakang saya yang multi disiplin, saya tidak merasa menjadi pasukan salah satu disiplin ilmu tersebut. Kita bisa menggunakan pendekatan insentif dari ekonomi, kognitif dari psikologi, atau struktural dari sosiologi, tergantung dari masalah yang ingin kita pecahkan.

Karena saya melihat ilmu ekonomi sebagai salah satu bagian dari payung ilmu perilaku manusia sosial, maka saya melihat pernyataan bahwa semua ide besar telah ditemukan adalah berlebihan. Muingkin saja benar untuk ilmu ekonomi; tapi memiliki teori ekonomi yang baik bukan berarti juga memiliki teori yang baik untuk perilaku manusia dan masyarakat (berlaku untuk semua disiplin ilmu, teori sosiologi atau psikologi yang baik bukan berarti kita mengerti manusia). Artinya, boleh saja memang Ape menganggap ilmu ekonomi sudah matang sekali, tapi bukan berarti seluruh ide besar untuk mengerti manusia sudah ditemukan. Jadi perbedaaan utama saya dengan Ape adalah dia fokus pada ilmu ekonomi saja, sedangkan saya melihatnya sebagai masalah yang lebih umum yaitu ilmu perilaku manusia dan sosial. Tentu ini wajar jika melihat latar belakang masing-masing.

Selanjutnya saya akan coba uraikan sedikit mengapa kita masih kekurangan ide besar. Saya ambil satu contoh kira-kira bagaimana ada ruang untuk ‘revolusi’ ide besar.

Ekonom, psikolog, dan sosiolog sering bertengkar satu sama lain menyangkut pendekatan masing-masing ilmu. Ekonom menggunakan teori pilihan rasional dengan insentif menjadi panglima, psikolog menunjukkan bahwa cara manusia berpikir dipenuhi oleh bias-bias kognitif yang tidak bisa kita kontrol sehingga sulit kita berpikir dan bertingkah secara rasional, sedangkan sosiolog menekankan struktur sosial yang membatasi pilihan individu sehingga perilaku rasional tersebut sebenarnya banyak ditentukan oleh struktur sosial sebagai penyedia kesempatan atau keterbatasan.

Meskipun tampaknya berbeda-beda, tetapi sebenarnya ketiga pendekatan tersebut memiliki dasar yang sama: ekonom, psikolog, dan sosiolog melakukan rasionalisasi terhadap sebuah perilaku sehingga perilaku itu dimengerti sebagai kombinasi berbagai faktor seperti preferensi, motivasi, insentif, budaya atau kesempatan. Bukan hanya ilmuwan, semua manusia melakukan hal yang sama: mengerti perilaku manusia dalam kerangka rasionalitas (berbentuk rasionalisasi) dalam arti seluas-luasnya.

Sampai disini Ape mungkin berkata: “Tuh kan betul, ide besar sudah ditemukan, buktinya rasionalitas sebagai ide besar sudah diterima umum, kita nggak perlu ide besar lain lagi”.

Mungkin iya, mungkin juga tidak.

Proses utama dibalik ide kerangka rasionalitas ini adalah simulasi: jika kita ingin mengerti kenapa seseorang berperilaku tertentu, maka kita harus masuk ke sepatu dia dan melihat dunia dari kaca mata dia. Dari situ kita akan mengerti kenapa dia berperilaku tertentu dengan mengerti insentif, bias, atau posisi sosial apa yang dia alami dan rasakan. Hampir semua pendekatan ilmu perilaku & sosial – dari ekonomi hingga antropologi – menggunakan pendekatan subyektif ini. Tentu bukan berarti pendekatan simulasi ini salah, malah sebaliknya pendekatan ini telah menghasilkan banyak hal. Tetapi tetap ada pertanyaan seberapa akuratkah simulasi yang kita lakukan?

Menjawab pertanyaan seberapa akurat simulasi tersebut tentunya bukan disini tempatnya. Poin saya disini adalah para ilmuwan perilaku & sosial – terlepas beragamnya disiplin ilmu dengan pendekatan masing-masing – sebetulnya memakai satu kerangka berpikir; dan kerangka berpikir ini bisa jadi bukanlah satu-satunya.

Lihat disiplin ilmu lain seperti fisika misalnya. Ketika kita ingin mengerti perilaku elektron, yang fisikawan lakukan bukanlah membayangkan dirinya jadi elektron dan lalu memikirkan bagaimana elektron bergerak ketika menghadapi situasi tertentu. Artinya, untuk mengerti elektron, atom, DNA kita tidak menggunakan proses simulai seperti halnya ketika kita mencoba mengerti manusia. Apakah mungkin kita tak menggunakan proses simulasi ketika melakukan ilmu perilaku & sosial ? Ini salah satu pertanyaan besar yang belum terjawab.

Jadi bagi saya kita masih memerlukan banyak ide besar untuk bisa benar-benar mengerti perilaku manusia. Uraian saya disini menunjukkan hanya pada satu contoh dimana ide besar dalam ilmu manusia bisa muncul: menjelaskan perilaku tanpa rasionalisasi. Saya masih bisa berikan beberapa pertanyaan-pertanyaan besar yang jawabannya perlu ide-ide besar.

Sebagai penutup, mari kita ingat kembali bahwa sebagai ilmuwan, berpikiran terbuka adalah kewajiban. Meskipun itu sulit, seperti Max Planck pernah katakan: ‘Kebenaran ilmiah yang baru tidak menang dengan meyakinkan lawannya  dan membuat mereka melihat kebenaran, tetapi  karena pada akhirnya lawannya meninggal dunia’.