Kepercayaan dan rasionalitas.

Bisakah orang memiliki kepercayaan tanpa rasionalitas? atau sebaliknya, rasionalitas tanpa kepercayaan?

Salah satu debat utama dalam ilmu sosial adalah apakah kepercayaan mendahului rasionalitas atau sebaliknya. Sebuah riset oleh ekonom menunjukkan bahwa kepercayaan (apakah seseorang percaya bahwa dia punya harapan atau tidak) memiliki efek cukup besar dalam menentukan apakah dia dapat keluar dari kemiskinan atau tidak.

Biasanya orang tetap berada dalam kemiskinan karena tidak percaya akan adanya harapan untuk keluar dari kemiskinan.

Development economists have long surmised that some very poor people may remain trapped in poverty because even the largest investments they are able to make, whether eating a few more calories or working a bit harder on their minuscule businesses, are too small to make a big difference. So getting out of poverty seems to require a quantum leap—vastly more food, a modern machine, or an employee to mind the shop. As a result, they often forgo even the small incremental investments of which they are capable: a bit more fertiliser, some more schooling or a small amount of saving.

Ternyata membuat orang percaya bahwa dirinya punya harapan untuk keluar dari kemiskinan memang dapat membebaskannya dari kemiskinan dengan berperilaku rasional. Selanjutnya jika memang rasionalitas didirikan di atas kepercayaan, pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana kepercayaan dikonstruksi sehingga diterima oleh banyak orang.

Singkatnya apa mekanisme yang membuat orang percaya apa yang dia percaya? Pertanyaan ini adalah salah satu pertanyaan yang dicoba dijawab oleh riset-riset di grup riset kami. Untuk menjawabnya kita merasa perlu mengerti narasi dan bahasa karena melalui keduanyalah kepercayaan ditransmisikan.

 

Artikel lengkapnya:

Free exchange: Hope springs a trap | The Economist.

Ilmuwan = pengusaha kecil?

Kebanyakan orang berpikir bahwa dunia ilmu pengetahuan berbeda dengan dunia bisnis: yang pertama fokus pada pemuasan rasa ingin tahu manusia untuk mengerti alam, dan yang kedua fokus pada pengumpulan profit. Tetapi praktek sains modern saat ini sepertinya mendorong dunia sains menjadi seperti dunia bisnis.

Dalam sebuah artikel yang membahas ini,

Dr. Ness likens scientists today to small-business owners, rather than people trying to satisfy their curiosity about how the world works. “You’re marketing and selling to other scientists,” she said. “To the degree you can market and sell your products better, you’re creating the revenue stream to fund your enterprise.”

Akibat dari dorongan kompetisi yang berlebihan ini, artikel tersebut melaporkan bahwa kecurangan diantara ilmuwan semakin meningkat akhir-akhir ini.

Ilmuwan tidak berbeda seperti pengusaha kecil, tapi yang dikumpulkan bukan uang melainkan artikel ilmiah. Malah di beberapa negara seperti Cina, India, dan republik kita tercinta ini, secara eksplisit disediakan insentif uang tunai untuk setiap artikel ilmiah yang diterbitkan di jurnal ilmiah top.

Bagi mereka yang tertarik dunia sains mutakhir, ada baiknya anda membaca artikel lengkapnya disini:

Rise in Scientific Journal Retractions Prompts Calls for Reform – NYTimes.com.

Kompetisi tentunya salah satu aspek penting dalam perkembangan pengetahuan manusia. Tetapi ini salah satu akibat jika kita terobsesi hanya pada kompetisi saja. Baca juga  ini dan ini yang memberikan paparan bahwa kompetisi bukan segalanya dalam dunia modern ini.

 

Bagaimana membuat organisasi yang etis?

Psikolog moral yang sedang bersinar Jonathan Haidt menjadi dosen di sekolah bisnis NYU. Menarik membaca apa yang akan dia kerjakan:

Within the Business and Society Program at NYU Stern, Haidt aims to integrate research on moral psychology with research and theory in business ethics, seeking the best ways to create organizations that function as ethical systems, with only minimal need for directly training people to behave ethically. He will create a course at Stern called “Ethical Systems Design.”

Usaha yang penting dan menarik. Menghadapi masalah etika ini biasanya fokus ke perubahan individu melalui pelatihan etika secara eksplisit, atau memanipulasi insentif individu. Saya tidak tahu bagaimana Haidt akan melakukan ini, tapi melihat pemikiran dia yang mengatakan bahwa basis moral itu adalah aspek sosial, sepertinya dia akan ambil serius dinamika interaksi sosialnya.

Berita lengkapnya:

Renowned Social Psychologist Jonathan Haidt Joins NYU Stern School of Business – MarketWatch.

Data sebagai senjata tempur melawan kejahatan dan masalah sosial

Sebuah cerita menarik bagaimana data termasuk senjata ampuh untuk membereskan masalah sosial di perkotaan. Tidak perlu mesin canggih, yang penting adalah kesadaran perlunya data dan kreatifitas untuk analisis dan lakukan follow up.

Penggunaan data sebagai metrik performance sudah biasa di sektor swasta. Besar efeknya jika sektor publik dan pemerintah mulai menggunakan data secara serius.

Before CompStat, precincts turned in their reports on crimes and arrests only every few months.   With CompStat, that data is collected and analyzed weekly.   Precinct commanders appear before the N.Y.P.D. leadership every few weeks to be questioned about their performance.  If the numbers are not good, the commander must explain why — and have a specific plan for improvement.    The next meeting begins with questions about how well those commitments were kept.

Why did this cause a revolution?   After all, this is exactly how good businesses have always been run.  CompStat after all, is probably (accounts vary) short for Computer Statistics — now there’s an up-to-the-minute concept.

“There was nothing new about this,” said Andrew Boyd, who runs a Baltimore-based consulting firm called GovStat.  “Except that it’s a private-sector concept that had never been embraced by the public sector.”

Artikel lengkapnya:

Armed With Data, Fighting More Than Crime – NYTimes.com.

Rekayasa Digital = Rekayasa Sosial

Kita miris pada dokter yang hanya memikirkan profit. Bagaimana jika para pegiat, pebisnis, dan insinyur digital – yang memiliki kemampuan rekayasa sosial dalam skala besar – hanya berpikir soal profit? Saatnya etika dan tanggung jawab sosial para pegiat digital mulai dipikirkan.

Sebuah essai yang menarik yang mengambil analogi antara piranti lunak dengan obat kedokteran. Mereka yang berkecimpung di dunia digital, dari mulai programmer hingga pebisnis nya harus mulai memikirkan soal etika dan tanggung jawab sosial.

We inhabit an interesting time in the history of humanity, where a small number of people, numbering not more than a few hundred, but really more like a few dozen, mainly living in cities like San Francisco and New York, mainly male, and mainly between the ages of 22 and 35, are having a hugely outsized effect on the rest of our species.

Through the software they design and introduce to the world, these engineers transform the daily routines of hundreds of millions of people. Previously, this kind of mass transformation of human behavior was the sole domain of war, famine, disease, and religion, but now it happens more quietly, through the software we use every day, which affects how we spend our time, and what we do, think, and feel.

In this sense, software can be thought of as a new kind of medicine, but unlike medicine in capsule form that acts on a single human body, software is a different kind of medicine that acts on the behavioral patterns of entire societies.

The designers of this software call themselves “software engineers”, but they are really more like social engineers.

Through their inventions, they alter the behavior of millions of people, yet very few of them realize that this is what they are doing, and even fewer consider the ethical implications of that kind of power.

Selanjutnya silahkan baca di laman berikut:

The Farmer & Farmer Review . Modern Medicine by Jonathan Harris.

Pusat riset Microsoft untuk ilmu sosial komputasi dan eksperimen

Baru mendapat berita luar biasa bahwa Microsoft membuka Lab baru di New York yang akan fokus pada ilmu sosial dan perilaku manusia berbasis komputasi, eksperimen dan data skala besar. Ilmuwan pendirinya terdiri dari ekonom, computer scientist, psychologist, sosiolog, dan data scientist kelas berat. Beberapa diantaranya yang saya kenal seperti Duncan Watts, Dan Goldstein, dan Sharad Goel termasuk orang-orang terpintar dan kreatif yang pernah saya temui.

Mereka adalah veteran Yahoo Research yang ditutup. Yang hebat mereka berhasil meyakinkan Microsoft untuk membuat Lab baru khusus untuk mereka.

Gak sabar melihat karya-karya mereka yang akan keluar dari Lab baru ini. Melihat bagaimana sains dasar, sains terapan dan produk industri dikombinasikan sepertinya akan menghasilkan terobosan baru.

Berikut beberapa beritanya:

Microsoft Research Debuts N.Y.C. Lab – Microsoft Research.

http://socialmediacollective.org/2012/05/03/msr-nyc/

http://blogs.technet.com/b/inside_microsoft_research/archive/2012/05/01/start-spreading-the-news-announcing-microsoft-research-new-york-city.aspx

How Technology Makes Us Better Social Beings

Kita sering mendengar bagaimana teknologi digital sekarang membuat orang menjadi asosial; hidup di dunia virtual dan menjadi canggung dalam interaksi tatap muka. Riset berikut memberikan bukti sebaliknya: justru teknologi seperti media sosial memperkaya relasi sosial pemakainya.

Sebuah kutipan:

“We’ve found the exact opposite—that people who use sites like Facebook actually have more close relationships and are more likely to be involved in civic and political activities.”

Selengkapnya:

How Technology Makes Us Better Social Beings | Science & Nature | Smithsonian Magazine.